Kanker rektum adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan yang menyerang usus besar dan rektum. Kanker ini tumbuh pada kolon atau bagian bawah usus besar yang berhubungan dengan anus (rektum). Menurut data Globocan 2020 Kanker kolorektal merupakan kejadian tertinggi ketiga di seluruh dunia yang mencakup 1,2 juta kasus (10,0%) dari seluruh diagnosis kanker dan urutan kedua sebagai penyebab utama kematian (9,4%) (Globocan, 2020). Di Amerika Serikat diperkirakan terdapat 135.439 kasus baru dari kanker kolorektal setiap tahunnya. Dari jumlah ini, 39.910 (30%) merupakan kanker rektum (National Cancer Institute, 2020). Sementara angka kejadian kanker rektum di Indonesia sebanyak 34.189 kasus, yaitu 8,6% dari seluruh kasus kanker yang dilaporkan. Pada tahun 2020 angka kematian akibat kanker rektum adalah 7,9% dari seluruh kematian akibat kanker (Globocan, 2020). Proses penyebaran tumor primer ke bagian tubuh lain disebut metastasis. Tempat paling umum terjadinya metastasis adalah tulang, hati, dan paru-paru (National Cancer Institute, 2020). Oleh karena itu dibutuhkan dosis dan pengaturan sinar yang optimal. Perlindungan Organ At Risk di sekitar tumor penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien kanker secara keseluruhan (Zahra Faradisi et al., 2023). Blok Universal digunakan untuk melindungi jaringan sehat selama penyinaran berkas elektron dengan membatasi luas
lapangan penyinaran yang di bikin secara manual. Pada umumnya blok universal terbuat dari timbal (Pb) (Wahyuning, 2023). Terdapat 3 pengobatan pada kanker rektum yaitu Pembedahan, Kemoterapi dan Radioterapi (Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2016). Radioterapi adalah pengobatan medis yang menggunakan sinar pengion berenergi tinggi seperti sinar-X dan sinar gamma, untuk memberikan dosis yang tepat pada sel kanker dan meminimalkan efek radiasi pada jaringan sehat di sekitarnya (Susworo & Hendry, 2017). Tujuan radioterapi adalah untuk memaksimalkan dosis radiasi pada sel kanker yang abnormal dan meminimalkan paparan terhadap sel normal yang berdekatan dengan sel kanker,meskipun pada kenyataannya radiasi dapat merusak sel kanker dan sel normal (Fitriatuzzakiyyah et al., 2017). Pesawat teleterapi terdiri dari pesawat terapi Cesium-137 (Cs-137), Linear Accelerator (Linac) dan pesawat terapi Cobalt-60. Pesawat Cobalt-60 merupakan pesawat radioterapi pertama untuk pengobatan kanker dengan radiasi energi tinggi yang dapat memberikan dosis di bawah permukaan kulit (National Cancer Institute, 2020). Keunggulan Cobalt-60 adalah memiliki kestabilan energi yang relatif sama dan laju dosis yang sama. Namun, kelemahan Cobalt-60 adalah harus mengganti source setiap 5 tahun, kesamaan lapangan yang rumit pada bidang yang luas dan memiliki penumbra yang besar (Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia, 2020).
Berdasarkan Komite Penanggulangan Kanker Nasional Tahun 2016, Lapangan penyinaran radioterapi pada kanker rektum metastasis caput femur dilakukan dengan teknik 4 lapangan serta box sistem yaitu : Posisi AP dengan sudut 0 derajat dengan mengatur titik sentrasi sesuai gambar yang di simulator dan mengatur blok pada daerah OAR. Posisi PA dengan sudut 180 derajat titik sentrasi berada di antara kulit dan tepi meja. Posisi lateral kanan dengan sudut 270 derajat dan Lateral kanan dengan sudut 90 derajat serta SSD 80 cm tepat pada titik sentrasi (+) antara kiri dan kanan. Berdasarkan studi pendahuluan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta untuk teknik radioterapi eksternal pada kanker rektum dengan metastasis caput femur dilakukan pemasangan blok pada batas atas dari L5-S1, namun pada batas bawah hingga marker anus dilakukan tanpa pemasangan blok untuk pengobatan kanker pada pasien. Menurut (Lempart et al. Radiation Oncology, 2022) Organ At Risk (OAR) pada kanker rektum terdiri dari usus, buli, tulang pelvis, dan caput femur. Oleh karena itu seluruh Organ At Risk (OAR) pada kanker rektum harus diblok. Sedangkan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta untuk teknik radioterapi eksternal menggunakan Cobalt-60 pada kanker rektum dengan metastasis, area caput femur dilakukan tanpa pemasangan blok. Sehingga area caput femur masuk ke dalam lapangan penyinaran. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik mengambil judul penelitian “Teknik Radioterapi Eksternal Menggunakan Cobalt-60 Pada
Kanker Rektum Dengan Metastasis Caput Femur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta”.