Diabetes melitus (DM) menjadi salah satu penyakit dengan julukan silent killer karena menyebabkan kematian pada penderitanya yang disebabkan oleh berbagai kasus yang tidak terdeteksi sejak awal. Penyakit DM ini bersifat sistemik hingga memiliki julukan lain yaitu mother of all diseases atau penyakit yang lama-kelamaan akan menyebabkan berbagai penyakit lain dan menjadi suatu komplikasi atau perburukan.Kerusakan vaskular yang disebabkan oleh DM Tipe 2 salah satunya yaitu peripheral artery disease (PAD) yang ditandai dengan adanya oklusi sebagian atau menyeluruh pada pembuluh darah perifer di ekstremitas atas dan bawah (Soyoye et al., 2021). Pada tingkat global, lower extremity PAD memengaruhi lebih dari 230 juta orang (Criqui et al., 2021).Angka kejadian PAD sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, HbA1C, dan faktor lainnya. Semakin tua usia, akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit cardiovascular, termasuk PAD. Prevalensi PAD terus meningkat seiring bertambahnya usia, bahkan hingga 15% pada pasien dengan usia lebih dari 70 tahun. Ditinjau dari jenis kelamin, prevalensi PAD pada wanita sedikit lebih tinggi dibandingkan pria (Divakaran et al., 2023).Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejadian PAD pada pasien diabetes melitus tipe 2.