Sindrom ovarium polikistik (SOPK) merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai pada wanita usia subur yang ditandai dengan siklus menstruasi tidak teratur, hiperandrogenisme, dan adanya kista di ovarium berdasarkan hasil ultrasonografi (USG) (Christ and Cedars, 2023). Obesitas merupakan faktor risiko utama pada pasien SOPK (Syamsiah et al., 2024). Obesitas pada pasien SOPK cenderung terpusat di area perut, pinggul, dan paha (Siddiqui et al., 2022). Obesitas abdominal ini dinilai dengan lebih akurat menggunakan indikator rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (Uysal et al., 2024). Penumpukan lemak abdominal ini dapat memicu hiperinsulinemia dan hiperandrogensime (Siddiqui et al., 2022). Hiperandrogenisme secara klinis menyebabkan munculnya pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh (hirsutisme), jerawat, dan kerontokan rambut (alopecia) (Wang et al., 2023). Hirsutisme dapat diukur menggunakan modified Ferriman-Gallwey (mFG) score dimana penghitungan ini mencakup sembilan area tubuh. Namun, terdapat pendekatan yang lebih sederhana yaitu dengan simplified FerrimanGallwey (sFG) score yang hanya mempertimbangkan tiga area tubuh yaitu dagu, perut atas, dan perut bawah (Oliveira et al., 2024) Data dari WHO menunjukkan bahwa sekitar 116 juta wanita (3,4%) mengalami SOPK secara global (Jabeen et al., 2022). Jumlah kasus SOPK di Indonesia bervariasi di setiap daerah, diperkirakan sekitar 5,5% hingga 16% pada kelompok usia 15-40 tahun (Ishlahi and Octora, 2024). Wanita dengan SOPK sangat umum ditemui pada kondisi obesitas dengan prevalensi mencapai 60%. Peningkatan indeks massa tubuh (IMT) meningkatkan risiko SOPK sebesar 9% (Syamsiah et al., 2024). Menurut suatu penelitian, pengukuran obesitas menggunakan indikator rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan pada pasien SOPK didapatkan hasil yang lebih akurat dibandingkan menggunakan IMT. Dengan sensitivitas yang sama, rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan memiliki spesifisitas sebesar 97,0% dibandingkan dengan IMT yang spesifisitasnya hanya sebesar 71,21% (Bhattacharya et al., 2021). Selain itu, karakteristik pasien SOPK lainnya adalah hiperandrogenisme yang dapat ditunjukkan melalui adanya hirsutisme. Sekitar 65-75% penderita SOPK mengalami hirsutisme yang ditandai dengan pertumbuhan rambut berlebih pada beberapa area tubuh (Spritzer et al., 2022). Obesitas abdominal memiliki peran signifikan dalam perkembangan SOPK (Mansour et al., 2024). Lemak berlebih yang terpusat pada area perut, pinggul, dan paha ini akan memicu peningkatan produksi insulin (Siddiqui et al., 2022). Kadar insulin yang meningkat menyebabkan peningkatan produksi dari hormon androgen di sel teka ovarium karena insulin memiliki kemampuan untuk meniru kerja dari luteinizing hormon (LH) dan secara tidak langsung juga meningkatkan produksi gonadotropin releasing hormon (GnRH) yang semakin merangsang ovarium untuk memproduksi androgen. Selain itu insulin juga dapat menurunkan kadar dari sex hormon binding globulin (SHBG), yaitu hormon yang mengikat testosterone dalam darah. Akibatnya kadar testosterone bebas dalam darah akan meningkat dan menyebabkan munculnya gejala hiperandrogenisme seperti hirsutisme, alopecia, dan jerawat (Singh et al., 2023). Hirsutisme merupakan pertumbuhan rambut terminal yang berlebihan dengan pola distribusi menyerupai pola pertumbuhan rambut seperti pada laki-laki. Hirsutisme ditemui pada penderita SOPK dengan prevalensi mencapai 6070% (Christ and Cedars, 2023). Androgen berperan dalam peningkatan ukuran folikel rambut, diameter rambut, dan fase anagen rambut. Peningkatan kadar androgen ini akan merangsang pertumbuhan rambut yang berlebih pada area tubuh yang sensitif terhadap androgen (Spritzer et al., 2022). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa SOPK merupakan penyakit pada wanita usia subur yang berkaitan dengan obesitas
terutama obesitas abdominal. Penumpukan lemak di area abdomen ini menyebabkan hiperinsulinemia dan hiperandrogenisme sehingga memicu gejala seperti hirsutisme, alopecia, dan jerawat. Angka prevalensi SOPK yang cukup tinggi baik di seluruh dunia maupun di Indonesia menyebabkan diperlukannya upaya pencegahan berbasis faktor risiko seperti pemantauan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan yang dinilai lebih akurat dalam memantau obesitas dibandingan dengan IMT. Penelitian sebelumnya telah meneliti hubungan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dengan hiperandrogenisme yang diukur berdasarkan indeks androgen bebas pada pasien SOPK. Ditemukan bahwa rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan berhubungan positif dengan kadar indeks androgen bebas (Mansour et al., 2024). Berbeda dengan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dengan hiperandrogenisme klinis yang diukur berdasarkan skor hirsutisme yaitu simplified keterkaitan Ferriman-Gallwey score. Pemahaman mengenai antara obesitas abdominal, hiperinsulinemia, dan hiperandrogenisme ini diharapkan dapat digunakan untuk strategi pencegahan yang lebih efektif dan mampu mengurangi risiko perkembangan SOPK.