Kanker payudara merupakan kanker paling sering terjadi pada wanita baik di negara maju maupun berkembang. Menurut GLOBOCAN 2018, diperkirakan pada tahun 2018 terjadi 2,1 juta kasus di seluruh dunia dan diperkirakan lebih dari 626.000 wanita meninggal akibat kanker payudara (Bray et al., 2018). Insidensi kanker payudara diperkirakan sedikit lebih tinggi terjadi pada negara maju namun angka kematian lebih tinggi terjadi di negara berkembang (Torre et al., 2016). Di Indonesia, kanker payudara telah menjadi tumor ganas tertinggi diikuti tumor ganas leher rahim. Pada tahun 2012 Angka kejadian kanker payudara di Indonesia diperkirakan sebesar 48,998 (Youlden D. et al, 2014). Menurut Jakarta cancer registry, kanker payudara merupakan kanker dengan insiden tertinggi di Indonesia dengan insiden 18.6 per 100.000 penduduk pertahun (Wahidin et al., 2012). Di Indonesia pada tahun 2013, kematian akibat kanker payudara berkisar 19,750 (Youlden D. et al, 2014). Kanker payudara dengan gambaran histopatologik dan genetik berbeda memiliki perangai biologik berbeda sehingga menyebabkan respon terhadap pengobatan juga berbeda. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengelompokkan kanker payudara ke dalam subtipe molekular untuk menentukan jenis pengobatan yang lebih akurat (Dai X. et al, 2015). Berdasarkan ekspresi molekular reseptor estrogen (ER), reseptor progesteron (PR), human epidermal receptor 2 (Her2), dan Ki-67, kanker payudara dapat diklasifikasikan menjadi luminal A, luminal B Her2+/- dan triple negative / basal-like. subtipe luminal B memiliki karakteristik ER+, dan/atau PR-, Her2+/- dan proliferasi tinggi. Subtipe Her2- memiliki karakteristik ER+, PR-, dan Her2-; sedangkan subtipe triple negative / basal-like memiliki karakteristik ER-, PR-, dan Her2- (Widodo, I. et al, 2014). Sekitar 60% kanker payudara merupakan subtipe luminal yang berasal dari sel epitel luminal yang melapisi kelenjar payudara. Penatalaksanaan kanker payudara meliputi pembedahan, radioterapi, kemoterapi dan terapi hormonal. Kemoterapi adalah pengobatan dengan menggunakan kombinasi obat-obatan yang bertujuan untuk menghancurkan atau memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker. Saat ini kemoterapi merupakan komponen yang sangat penting dalam penanganan kanker payudara (Gong et al., 2010). Adapun jenis-jenis kemoterapi yang biasanya digunakan pada kanker payudara yaitu Kemoterapi Neoajuvant, Kemoterapi Ajuvant, dan kemoterapi Paliatif (Azwar B, 2010) Saat ini, pemberian terapi baik itu kemoterapi neoadjuvant maupun terapi hormone diberikan berdasarkan keberadaan biomarker reseptor estrogen (ER), reseptor progesterone (PR), dan Ki-67 (spring LM. et al, 2016). Beberapa penelitian kecil telah mengungkapkan kurangnya stabilitas HR dan / atau ekspresi biomarker Ki-67 selama perkembangan tumor pada kanker. Beberapa penelitian telah mengungkapkan kurangnya stabilitas reseptor hormone (HR) dan / atau ekspresi biomarker Ki-67 selama perkembangan tumor pada kanker payudara payudara (Thompson AM. et al, 2010). Sampai saat ini masih sedikit yang diketahui tentang nilai prediktif atau prognostik dari status reseptor yang berubah setelah pemberian kemoterapi. Beberapa peneliti berusaha untuk mengkorelasikan perubahan reseptor dengan respon pengobatan, tetapi terdapat kesimpulan yang bertentangan (Kasami M. et al, 2008). Analisis retrospektif kanker payudara primer dan berulang menunjukkan bahwa ketidaksesuaian ekspresi reseptor tidak hanya signifikan secara statistik, tetapi juga dapat dikaitkan dengan kelangsungan hidup yang lebih buruk (Wu Y-T. et al, 2017). Penurunan angka kelangsungan hidup ini mungkin merupakan akibat dari penggunaan targeted therapy yang tidak tepat atau pertumbuhan tumor dengan fenotipe yang lebih tidak stabil dan karenanya fenotipe yang lebih agresif. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui tentang pengaruh kemoterapi terhadap perubahan kadar progesteron pada pasien kanker payudara luminal B di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Kanker payudara merupakan kanker paling sering terjadi pada wanita baik di negara maju maupun berkembang. Menurut GLOBOCAN 2018, diperkirakan pada tahun 2018 terjadi 2,1 juta kasus di seluruh dunia dan diperkirakan lebih dari 626.000 wanita meninggal akibat kanker payudara (Bray et al., 2018). Insidensi kanker payudara diperkirakan sedikit lebih tinggi terjadi pada negara maju namun angka kematian lebih tinggi terjadi di negara berkembang (Torre et al., 2016). Di Indonesia, kanker payudara telah menjadi tumor ganas tertinggi diikuti tumor ganas leher rahim. Pada tahun 2012 Angka kejadian kanker payudara di Indonesia diperkirakan sebesar 48,998 (Youlden D. et al, 2014). Menurut Jakarta cancer registry, kanker payudara merupakan kanker dengan insiden tertinggi di Indonesia dengan insiden 18.6 per 100.000 penduduk pertahun (Wahidin et al., 2012). Di Indonesia pada tahun 2013, kematian akibat kanker payudara berkisar 19,750 (Youlden D. et al, 2014). Kanker payudara dengan gambaran histopatologik dan genetik berbeda memiliki perangai biologik berbeda sehingga menyebabkan respon terhadap pengobatan juga berbeda. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengelompokkan kanker payudara ke dalam subtipe molekular untuk menentukan jenis pengobatan yang lebih akurat (Dai X. et al, 2015). Berdasarkan ekspresi molekular reseptor estrogen (ER), reseptor progesteron (PR), human epidermal receptor 2 (Her2), dan Ki-67, kanker payudara dapat diklasifikasikan menjadi luminal A, luminal B Her2+/- dan triple negative / basal-like. subtipe luminal B memiliki karakteristik ER+, dan/atau PR-, Her2+/- dan proliferasi tinggi. Subtipe Her2- memiliki karakteristik ER+, PR-, dan Her2-; sedangkan subtipe triple negative / basal-like memiliki karakteristik ER-, PR-, dan Her2- (Widodo, I. et al, 2014). Sekitar 60% kanker payudara merupakan subtipe luminal yang berasal dari sel epitel luminal yang melapisi kelenjar payudara. Penatalaksanaan kanker payudara meliputi pembedahan, radioterapi, kemoterapi dan terapi hormonal. Kemoterapi adalah pengobatan dengan menggunakan kombinasi obat-obatan yang bertujuan untuk menghancurkan atau memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker. Saat ini kemoterapi merupakan komponen yang sangat penting dalam penanganan kanker payudara (Gong et al., 2010). Adapun jenis-jenis kemoterapi yang biasanya digunakan pada kanker payudara yaitu Kemoterapi Neoajuvant, Kemoterapi Ajuvant, dan kemoterapi Paliatif (Azwar B, 2010) Saat ini, pemberian terapi baik itu kemoterapi neoadjuvant maupun terapi hormone diberikan berdasarkan keberadaan biomarker reseptor estrogen (ER), reseptor progesterone (PR), dan Ki-67 (spring LM. et al, 2016). Beberapa penelitian kecil telah mengungkapkan kurangnya stabilitas HR dan / atau ekspresi biomarker Ki-67 selama perkembangan tumor pada kanker. Beberapa penelitian telah mengungkapkan kurangnya stabilitas reseptor hormone (HR) dan / atau ekspresi biomarker Ki-67 selama perkembangan tumor pada kanker payudara payudara (Thompson AM. et al, 2010). Sampai saat ini masih sedikit yang diketahui tentang nilai prediktif atau prognostik dari status reseptor yang berubah setelah pemberian kemoterapi. Beberapa peneliti berusaha untuk mengkorelasikan perubahan reseptor dengan respon pengobatan, tetapi terdapat kesimpulan yang bertentangan (Kasami M. et al, 2008). Analisis retrospektif kanker payudara primer dan berulang menunjukkan bahwa ketidaksesuaian ekspresi reseptor tidak hanya signifikan secara statistik, tetapi juga dapat dikaitkan dengan kelangsungan hidup yang lebih buruk (Wu Y-T. et al, 2017). Penurunan angka kelangsungan hidup ini mungkin merupakan akibat dari penggunaan targeted therapy yang tidak tepat atau pertumbuhan tumor dengan fenotipe yang lebih tidak stabil dan karenanya fenotipe yang lebih agresif. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui tentang pengaruh kemoterapi terhadap perubahan kadar progesteron pada pasien kanker payudara luminal B di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.