Ketidaktepatan dalam penggunaan obat dapat menyebabkan masalah terkait obat yang dikenal dengan istilah Drug-Related Problems (DRPs). Menurut Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE), Drug-Related Problems (DRPs) adalah kondisi yang melibatkan penggunaan obat yang dapat memengaruhi hasil terapi yang diinginkan. Drug-Related Problems (DRPs) dapat timbul akibat kesalahan dalam pemilihan obat, dosis yang tidak sesuai, interaksi antarobat, atau ketidakpatuhan pasien terhadap regimen pengobatan. Kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan terapi, peningkatan efek samping atau resisten obat. Masalah terkait obat dapat terjadi pada semua kelompok usia, khususnya pada anak-anak yang lebih rentan. Sekitar 30-40% anak dilaporkan mengalami setidaknya satu masalah terkait pengobatan. Drug-Related Problems (DRPs) dapat menyebabkan pengobatan tidak efektif, meningkatkan angka kunjungan ulang, rawat inap berulang, serta meningkat kebutuhan akan tambahan terapi, yang pada akhirnya menambah biaya pengobatan (T. H. Nguyen et al., 2021). Salah satu penyakit infeksi kronis yang menyebabkan pengobatan jangka panjang dan komplek adalah tuberkulosis (TBC). Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masakah Kesehatan global, yang disebabkan oleh Basil Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini meyebar melalui udara, terutama saat penderita batuk atau bersin.(World Health Organization, 2024) . Pada tahun 2023, tuberkulosis (TBC) menjadi penyebab utama kematian di dunia akibat infeksi, setelah sebelumnya selama tiga tahun digantikan oleh penyakit Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Tuberkulosis (TBC) menempati peringkat ketiga sebagai penyebab kematian secara global. Diperkirakan terdapat sekitar 10 juta kasus tuberkulosis (TBC) baru setiap tahun, dengan proporsi yang signifikan terjadi pada anak-anak. Sekitar 55% kasus tuberkulosis (TBC) global dilaporkan terjadi pada anak-anak dan remaja, sekitar 33% terjadi pada pria dan 12% terjadi pada wanita (World Health Organization, 2024).
Anak- anak, khususnya bayi dan balita, memiliki risiko tinggi terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Sekitar 1,4 juta kematian setiap tahuan disebabkan oleh tuberkulosis (TBC), mencerminkan tantangan besar dalam diagnosis dan pengobatan tuberkulosis (TBC), khususnya pada kelompok usia di bawah 15 tahun (Vonasek et al., 2022). Indonesia merupakan negara dengan beban tuberkulosis (TBC) tertinggi kedua di dunia. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, tahun 2022, terdapat 110.881 kasus tuberkulosis (TBC) pada anak dengan usia di bawah 15 tahun, atau sekitar 15,3% dari total kasus tuberkulosis (TBC) nasional. Dari jumlah tersebut, 143 kasus merupakan tuberkulosis (TBC) resisten obat (TBC-RO). Angka leberhasilan pengobatan tuberkulosis (TBC) anak berbeda-beda di setiap provinsi. Provinsi Bali mencatat tingkat kesembuhan terendah 30.2%, sementara Provinsi Jawa Barat tertinggi 40,15% (Kemenkes, 2023). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi merupakan rumah sakit pemerintah provinsi Jawa Tengah yang terletak di Surakarta. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surakarta, persentase kasus tuberkulosis (TBC) anak usia 0-14 tahun, dari 28,93% pada tahun 2022 menjadi 16,51% pada tahun 2023. Sebanyak 334 anak terdiagnosis tuberkulosis (TBC) dan menjalani pengobatan di Kota Surakarta (Dinas Kesehatan Kota Surakarta, 2023). Meskipun terjadi penurunan, tantangan dalam efektivitas terapi dan pengelolaan obat menjadi perhatian, terutama terkait kemungkinan terjadinya drug-related problems (DRPs). Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak dari Drug-Related Problems (DRPs) terhadap keberhasilan pengobatan pasien anak dengan tuberkulosis (TBC) yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi Surakarta. Evaluasi ini meliputi identifikasi Drug-Related Problems (DRPs) yang terjadi serta dampaknya terhadap hasil pengobatan.