Melasma merupakan kelainan hipermelanosis didapat yang bersifat kronik residif dengan predileksi area yang terpapar sinar matahari (sun exposed) pada orang dewasa, khususnya wanita usia reproduksi yang dipicu oleh beberapa faktor antara lain faktor genetik, faktor hormonal seperti penggunaan kontrasepsi oral dan kehamilan, peradangan kronis serta paparan sinar ultraviolet (UV) dalam waktu yang lama (Rajanala et al., 2019; Espósito et al., 2022). Manifestasi klinis melasma berupa bercak kecoklatan tidak teratur, simetris dengan batas tegas pada daerah sekitar mata, hidung, pipi, dagu dan dahi (Devi et al., 2020). Penelitian Sirithanabadeekul dkk pada tahun 2019 di Thailand menjelaskan bahwa untuk melihat perbaikan klinis dalam pengobatan melasma yaitu dengan menggunakan indeks melanin dengan mexameter sebagai pengukuran objektif dan pengukuran skor MASI serta kepuasan pasien sebagai pengukuran subjektif (Sirithanabadeekul et al., 2019). Melasma umumnya terjadi pada pasien berkulit gelap pada wanita Asia atau Hispanik dengan jenis kulit Fitzpatrick tipe III dan IV serta pada wanita usia dewasa (30 - 40 tahun) (Rajanala et al., 2019; Pietowska et al., 2022). Prevalensi melasma di dunia mencapai 1%. Prevalensi melasma di Asia lebih tinggi yaitu mencapai 6,8% di Nepal dan 13,61% di Cina (Murlistyarini et al., 2023). Melasma diperkirakan mencakup sekitar 0,25 - 4% dari semua penyakit kulit di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Devi dkk pada tahun 2020 di Surabaya menjelaskan bahwa tipe melasma terbanyak di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya yaitu melasma tipe campuran (mixed type) (Devi et al., 2020). Patogenesis melasma bersifat kompleks dan belum sepenuhnya diketahui (Rajanala et al., 2019; Pietowska et al., 2022). Penelitian yang dilakukan oleh Torres dkk pada tahun 2011 menjelaskan bahwa terdapat kerusakan membran basalis pada melasma. Pemeriksaan histopatologi menemukan bahwa melanosit menembus basal membran zone (BMZ) dan turun ke papila dermis kulit. Hal tersebut menyebabkan melanosit berada bebas di dalam dermis kulit pasien melasma (Hafeez et al., 2021). Paparan sinar ultraviolet (UV)-B dapat menstimulasi keratinosit yang kemudian meningkatkan melanosit dan produksi melanin melalui berbagai macam faktor pertumbuhan, sitokin dan hormon yang menginduksi sintesis nitric oxide (iNOs) (Rajanala et al., 2019). Sinar ultraviolet menembus ke dalam dermis dan dapat merusak DNA secara langsung dengan menghasilkan reactive oxygen species (ROS). Reactive oxygen species yang berlebih dapat menyebabkan berbagai masalah kulit dan salah satunya adalah kelainan hiperpigmentasi (Yardman‐Frank dan Fisher, 2021). Sinar UVB merupakan salah satu faktor risiko terjadinya melasma. Sinar ultraviolet-B dan cahaya tampak menyebabkan peningkatan regulasi reseptor melanocyte-stimulating hormone (MSH), mendorong sintesis melanin, mengaktifkan aktivitas tirosinase sehingga menyebabkan hiperpigmentasi (Yardman‐Frank dan Fisher, 2021). Melanin diproduksi oleh melanosit dan ditransfer ke keratinosit sekitarnya. Faktor transkripsi yang paling penting dalam mengatur fungsi melanosit adalah microphthalmia transcription factor (MITF). Gen yang menkode tirosinase yaitu tyrosinase-related protein (TRP)-1, dopachrome tautomerase (DCT) dan premelanosome protein (PMEL)-17 yang terlibat dalam kelainan pigmentasi (Kawaguchi M dan Suzuki, 2017). MikroRNA (miRNA) juga berpengaruh terhadap kejadian melasma. MikroRNA merupakan nukleotida kecil berukuran 20 - 24, RNA nonkoding yang diekspresikan secara endogen. MikroRNA-125b merupakan miRNA yang berperan penting mengatur melanogenesis dan transfer melanosom (Aishwarya et al., 2020). MikroRNA-203 telah terbukti dalam mengatur pigmentasi dalam sel melanoma dan melanosit normal yang mentargetkan TYR tanpa mempengaruhi MITF (Noguchi et al., 2014). MikroRNA lain seperti miRNA-3196 dan miRNA-145 telah terbukti dalam mengganggu proses melanogenesis yang terlibat pada respon UV-B (Dynoodt et al., 2013; Lo Cicero et al., 2015), sedangkan penurunan miRNA-675 menyebabkan peningkatan pigmentasi pada pasien melasma (Kim et al., 2014). Ekspresi berlebih dari miRNA-675 dapat menurunkan TRP 1 dan TRP 2. Pada pasien melasma terjadi penurunan kadar miRNA-675 (Aishwarya et al., 2020). Terapi melasma yang sulit dan dampak negatif melasma terhadap penampilan, kesehatan fisik dan mental juga masih menjadi masalah (Aishwarya et al., 2020; Lai et al., 2022; Pietowska, et al., 2022). Pengobatan melasma perlu memperhatikan ketidakseimbangan hormon, faktor fotoproteksi dan yang paling penting adalah multi modalitas terapi. Terapi melasma seperti peeling kimia, terapi laser, terapi lokal atau sistemik seperti asam traneksamat, topikal hidrokuinon (HQ), topikal tretinoin dan vitamin C. Permasalahan pada melasma seperti pengobatan jangka panjang, mudah terjadinya kekambuhan, tingkat kepatuhan pasien yang rendah serta belum terdapat terapi ideal untuk melasma masih menjadi perhatian (Litaiem et al., 2020; Manuskiatti et al., 2021; Micek et al., 2022; Pietowska, et al., 2022). Metode terbaru dan inovatif untuk melasma saat ini adalah dengan menggunakan sel punca dan derivatnya (Pietowska, et al., 2022). Adipose derived stem cell (ADSC) merupakan sel punca yang berasal dari mesenkimal yang berasal dari jaringan adiposa, memiliki keunggulan dibandingkan sel punca lainnya. Adipose derived stem cell memiliki efek parakrin/ cell signaling carrier yang akan mempengaruhi sel punca lainnya untuk regenerasi dan memperbaiki kerusakan pada sel-sel lainnya (Park et al., 2023). Adipose derived stem cell sebagai terapi sel alogenik yang cocok karena memiliki immunogenitas yang rendah (Chen S et al., 2020). Eksosom adalah mikrovesikel yang berukuran 30 - 100 nm yang merupakan produk metabolit sel yang berperan sebagai kargo pembawa protein bioaktif messenger ribonucleic acid (MRNA) dan mikroRNA (miRNA) (Greening et al., 2015). Eksosom memiliki sifat seperti sel punca yang memiliki stabilitas yang lebih tinggi, tidak terdapat sel hidup, pengawetan yang lebih baik serta memiliki immunogenisitas yang rendah (Wang T et al., 2023). Eksosom mengandung protein immunoregulasi dan dapat menurunkan sekresi dari interferon (IFN)- yang selanjutnya dapat menghambat aktivasi sel T, sehingga mengurangi peradangan dan membantu dalam melanogenesis serta regenerasi kulit (An et al., 2019; Wang T et al., 2023). Eksosom dapat berasal dari saliva, cairan amnion, cairan serebrospinal, darah, air mata, air susu ibu, jaringan plasenta maupun jaringan lemak. Eksosom yang berasal dari jaringan lemak yaitu eksosom adipose derived stem cell (ADSC) (Hade et al., 2021). Eksosom dapat berasal dari berbagai jenis tipe sel dan mengandung berbagai protein seluler termasuk molekul MHC dan molekul adhesi serta miRNA. Transfer miRNA yang berasal dari eksosom sebagai sarana komunikasi antar sel, miRNA-675 dapat dilepaskan dari keratinosit melalui eksosom dan mengatur melanogenesis dalam melanosit (Kawaguchi M dan Suzuki, 2017). Eksosom dapat meningkatkan regenerasi jaringan, menghambat aktivitas tirosinase dan menghambat pembentukan melanin. Dengan demikian, sifat regenerasi yang kuat dan perbaikan fungsi oleh eksosom menunjukkan fungsi eksosom untuk mengobati melasma (Wang T et al., 2023). Eksosom menghambat aktivitas tirosinase, mengurangi ROS, matrix metalloproteinase (MMP) dan meningkatkan superoxide dismutase (SOD) dalam tubuh (Li et al., 2018). Eksosom ADSC merupakan eksosom yang berasal dari sel punca adiposa dan telah menjadi topik hangat dalam pengobatan pada bidang kulit (An et al., 2019). Eksosom ADSC juga dapat mengurangi produksi ROS dan stress oksidatif yang dapat mengurangi kerusakan BMZ dan mengurangi kejadian melasma (Xiong et al., 2020). Efek eksosom ADSC terhadap produksi melanin terlihat pada penelitian in vitro terhadap sel melanoma pada mencit B16F10. Sel melanoma pada mencit yang diberikan eksosom ADSC selama 72 jam memperlihatkan penurunan kadar melanin intraseluler pada sel B16F10 dan hilangnya kadar -MSH (Cho et al., 2020). Penelitian yang dilakukan oleh Seung Cho dkk pada tahun 2020 di Korea pada 21 wanita melasma dengan split-face yang diberikan eksosom sel stromal secara oles 2x/ hari selama 8 minggu memberikan hasil yang signifikan. Dilakukan pengukuran dengan menggunakan mexameter dengan menilai indeks melanin pada minggu ke-0, ke-2, ke-4 dan ke-8 (Cho et al., 2020). Belum ada penelitian yang membahas mengenai pengaruh pemberian eksosom ADSC pada pasien melasma. Berdasarkan hal tersebut yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian terhadap pasien melasma dengan eksosom ADSC yang diaplikasikan secara intralesi.