Karsinoma sel basal (KSB) merupakan tumor ganas non-melanoma yang berasal dari sel basal pada lapisan epidermis dan adneksanya yang tidak mengalami proses keratinisasi (Toha et al., 2019; Fagan et al., 2023). Karsinoma sel basal memiliki kemampuan invasif secara lokal, agresif, dan destruktif terhadap jaringan sekitarnya (Fagan et al., 2023). Tumor ini disebut juga sebagai epitelioma karena potensi metastasisnya rendah (Wu, 2024). Karsinoma sel basal merupakan keganasan yang paling umum terjadi pada Ras Kaukasia. Angka kejadian KSB mencapai 80% dari keseluruhan jenis kanker non-melanoma. Seperti yang sudah disebutkan di atas, pertumbuhan tumor KSB tergolong lambat dan memiliki tingkat insidensi metastasis yang cenderung rendah yaitu sebesar 0,0028% hingga 0,55% (Piva De Freitas et al., 2017; Bertozzi et al., 2019). Insiden KSB juga diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya yang mencapai 3-10% dan dalam studi epidemiologi menunjukkan kejadian KSB lebih banyak pada laki-laki dibandingkan perempuan, terutama pada usia lanjut (Sunjaya et al., 2017). Insidensi KSB di Indonesia cenderung meningkat. Insidensi KSB di RSUD dr. Moewardi Surakarta pada tahun 2011-2015 dilaporkan rata-rata sebesar 0,1% (Toha et al., 2019). Age-adjusted mortality rate pada KSB diperkirakan sebesar 0,12 per 100.000 (McDaniel et al., 2024). Gambaran klinis yang sering dijumpai adalah adanya lesi yang translusent, ulserasi, teleangiektasis dan adanya tepi yang meninggi/indurasi. Gambaran yang khas bervariasi tergantung berbagai varian klinik (Carucci et al., 2012). Gambaran klinis yang ditunjukkan dapat mempengaruhi klasifikasi KSB terdiri dari tipe superfisial, pigmented, fibroepitelioma of pinkus (FOP), morfeaformis maupun ulkus roden atau nodular. Lesi yang ditunjukkan pada pasien KSB juga dapat menyerupai lesi non keganasan seperti skin tag ataupun dermatitis sehingga seringkali tidak terdiagnosis sebagai salah satu keganasan dalam praktik klinis (Fania et al., 2020). Karsinoma sel basal dapat diklasifikasikan ke dalam tipe agresif atau nonagresif berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologis maupun klinis. Menurut (Pampena et al., 2021), istilah agresif dapat didefinisikan sebagai kemampuan KSB untuk menginfiltrasi secara luas dan dalam dengan perubahan yang relatif sedikit pada permukaan kulit di atasnya. Gambaran klinis pada kondisi agresif yaitu adanya infiltrasi yang luas pada area demis sehingga tampak membran basal yang rusak. Kemudian, tipe non-agresif atau risiko rendah didapatkan tampilan membran basal yang masih kontinu dan mengelilingi area lesi atau neoplasma pada struktur dermis (Toha et al., 2019; Niculet et al., 2021). Berdasarkan pemeriksaan histopatologik, KSB agresif ditandai adanya kerusakan membran basalis, sarangsarang sel tumor berbentuk non sirkuler, dengan derajat palisade lebih sedikit atau hilang, berbentuk runcing atau bergerigi atau sel tumor berbentuk basaloid atau atipikial. Sedangkan, karakteristik KSB non-agresif adalah tumor yang bersarang secara sirkular dengan derajat palisade perifer yang lebih besar atau tumor bersarang di membran basal yang tidak rusak (Mawardi et al., 2016). Proses inflamasi erat dikaitkan dengan proses malignansi tidak terkecuali pada kasus KSB. Berdasarkan beberapa studi yang mengkaji mengenai proses inflamasi pada berbagai proses perkembangan malignansi seperti apoptosis sel, epithelial to mesenchymal transition (EMT), angiogenesis dan juga tumorigenesis, salah satu yang berperan adalah enzim cyclooxygenase-2 (COX-2). Enzim COX-2 ini dapat diperiksa menggunakan pemeriksaan imunohistokimia (IHK) (Ghasemi et al., 2019). Kelebihan pemeriksaan ini adalah dapat menilai ekspresi COX-2 secara in situ, dapat dilakukan pada sampel jaringan segar atau beku, mudah dilakukan, dan biaya yang dibutuhkan relatif rendah. Selain itu, pemeriksaan ini bersifat proteinspecific (Gurina & Simms, 2023). Cyclooxygenase-2 secara molekuler, merupakan enzim yang terlibat dalam produksi prostaglandin, khususnya prostaglandin E2 (PGE2), yang merupakan mediator inflamasi. Prostaglandin E2 telah diketahui berperan dalam berbagai aspek kanker, termasuk proliferasi sel, angiogenesis, dan resistensi terhadap apoptosis (Gómez-Valenzuela et al., 2021). Prostaglandin E2 dapat meningkatkan ekspresi faktor pertumbuhan seperti epidermal growth factor (EGF), yang kemudian merangsang jalur mitogen-activated protein kinase (MAPK) dan faktor transkripsi seperti c-Myc, yang mempromosikan pertumbuhan sel. Cyclooxygenase-2 dan PGE2 juga dapat mempengaruhi angiogenesis, proses pembentukan pembuluh darah baru, yang penting untuk pertumbuhan tumor. Prostaglandin E2 dapat meningkatkan produksi faktor angiogenesis seperti vascular endothelial growth factor (VEGF), yang kemudian merangsang proliferasi dan migrasi sel-sel endotel, serta pembentukan pembuluh darah baru. Prostaglandin E2 juga dapat mempengaruhi kemampuan sel kanker untuk menghindari apoptosis (Finetti et al., 2020; Chen et al., 2022). Studi terbaru yang mengkaji mengenai ekspresi COX-2 pada kasus KSB melalui pemeriksaan IHK pada 30 kasus KSB primer dan 10 kasus KSB recurrent didapatkan hasil bahwa ekspresi COX-2 secara signifikan lebih tinggi pada kasus KSB tipe agresif dibandingkan dengan subtipe nodular dan superfisial pada kelompok KSB primer. Dalam studi yang sama juga tidak ditemukan perbedaan ekspresi COX-2 antara KSB tipe nodular dan superfisial. Bukan hanya itu, ekspresi COX-2 juga ditemukan meningkat secara signifikan pada kelompok KSB tipe recurrent dibandingkan dengan kelompok primer (Karahan et al., 2011). Tumor necrosis factor alpha (TNF-α) merupakan sitokin proinflamasi yang berkaitan dengan inflamasi kronis yang dapat menginduksi karsinogensis. TNF-α dapat memicu inisiai transformasi neoplastik, ketidakstabilan DNA, bertindak sebagai faktor pertumbuhan untuk sel neoplastik secara autokrin dan berperan sebagai kontributor utama metastasis (Sharif et al., 2020). TNF-α merupakan produk sel mast yang berperan penting dan terlibat pada kondisi yang diinduksi ultraviolet (Alim et al., 2024). Kadar TNF-α meningkat pada kulit yang terpapar radiasi UV sehingga mengganggu morfologi dan fungsi sel Langerhans, sel penyaji antigen utama pada kulit. Kondisi ini dapat mendukung terciptanya lingkungan mikro yang cocok untuk sel kanker KSB (Zilberg et al., 2023). Sejauh yang penulis ketahui, studi lain yang mengkaji mengenai ekspresi COX-2 pada kejadian KSB tipe agresif dan non-agresif sampai saat sebagian besarnya dilakukan di negara-negara barat, sedangkan penelitian terkait COX-2 pada KSB masih terbatas di Indonesia. Pengkajian lebih lanjut dengan populasi yang berbeda sehingga didapatkan hubungan yang komprehensif antara perbedaan ekspresi COX-2 pada kejadian KSB tipe agresif dan non-agresif. Hal tersebut dapat menggambarkan peranan COX-2 dan TNF-α pada agresivitas KSB dan juga dapat dijadikan dasar kajian dalam selektifitas pemberian COX-2 inhibitor dan terapi anti TNF-α pada pasien KSB.