Osteosarkoma atau osteogenik sarkoma merupakan salah satu keganasan ortopedi paling umum yang ditandai dengan peningkatan produksi matriks osteoid oleh sel tumor tulang (Ottaviani & Jaffe, 2009). Insidensi osteosarkoma pada semua populasi menurut WHO pada tahun 2015 sekitar 4-5 per 1.000.000 penduduk (Cao et al., 2020). Insidensi osteosarkoma di Indonesia menurut data Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo terdapat 219 kasus (16.8 kasus/tahun) dalam kurun waktu 13 tahun (1995-2007) yang merupakan jumlah terbanyak dari seluruh keganasan tulang (70,59%) (Komite Penanggulanan Kanker Nasional, 2015). Menurut data insidensi sarkoma di RSUD Dr. Moewardi selama periode 2015 – 2019 tercatat terdapat 47 kasus osteosarkoma atau setara dengan 12.2% kasus sarkoma (Soewoto & Asli, 2021). Salah satu modalitas lokal kontrol osteosarkoma adalah secara kimiawi yaitu menggunakan bahan kimia seperti etanol dan fenol. Etanol, disebut juga etil alkohol atau alkohol, adalah senyawa hidrokarbon berupa gugus hydroksil (OH) dengan 2 atom karbon (C) (Onyekwelu, 2019). Etanol telah digunakan secara efisien di sektor klinis sebagai agen ablatif/sklerosing/embolik untuk mengurangi morbiditas yang berhubungan dengan reseksi tumor (Mathew & Goyal, 2023). Fenol atau Benzenol merupakan senyawa yang berasal dari tumbuhan atau senyawa organik yang memiliki gugus hidroksil yang terikat pada cincin benzene (Abdollahi et al., 2014). Dalam sektor klinis, fenol dapat juga digunakan agen sclerosis (Gattey, 2008) Antigen Ki-67 adalah protein nuklear manusia yang digunakan sebagai penanda proliferasi sel (Scholzen & Gerdes, 2000). Ekspresi protein ini sangat terkait dengan proliferasi sel dan banyak digunakan dalam evaluasi patologi rutin sebagai penanda proliferasi untuk mengukur fraksi pertumbuhan sel pada tumor manusia yang diterima secara luas dan berguna dalam memprediksi perkembangan neoplasma manusia (Ismail et al., 2010). Hingga kini, penelitian mengenai perbandingan efektivitas antara etanol dan fenol sebagai adjuvant lokal kontrol pada tatalaksana osteosarkoma masih terbatas. Untuk itu, penelitian ini ingin perbedaan efikasi nekrosisitas tumor antar kedua agen tersebut melalui pengaruhnya terhadap ekspresi Ki-67 yang dianggap sebagai penanda proliferasi neoplasma pada alternatif lokal kontrol.