Pasien yang menjalani perawatan di Instalasi Care Unit (ICU) sering kali menghadapi tekanan psikologis yang tinggi. Mereka dihadapkan pada kondisi lingkungan yang tidak biasa, penuh dengan alat medis canggih, keterbatasan dalam bergerak dan berkomunikasi, serta risiko yang tinggi terhadap keselamatan jiwa. Situasi ini dapat memicu gangguan psikologis, salah satunya adalah kecemasan (Pangestu et al., 2024). Kecemasan yang tidak tertangani dapat memengaruhi kondisi fisik seperti gangguan pencernaan, mual, nyeri perut, serta gangguan tidur seperti insomnia, yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup pasien (Pratiwi, Mirza, & Akmal, 2019). Data global menunjukkan bahwa gangguan kecemasan mengalami peningkatan signifikan. Menurut laporan WHO (2021) dalam jurnal Santomauro et al. (2021) mengatakan bahwa jumlah kasus gangguan kecemasan meningkat dari 53,2 juta menjadi 76,2 juta kasus. Dari jumlah tersebut, perempuan menyumbang 51,8 juta kasus dan laki-laki 24,4 juta kasus. Usia muda, terutama rentang 20–24 tahun, memiliki prevalensi tertinggi, yaitu 1.331 kasus per 100.000 penduduk. Di ICU sendiri, kecemasan menjadi masalah yang sangat umum. Sekitar 50% pasien ICU dilaporkan mengalami kecemasan setelah 48 jam perawatan (Fonseca et al., 2019), dan studi lain melaporkan angka kecemasan hingga 84,3% (Shdaifat, S. A., & Al Qadire, M, 2022). Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2023, sebanyak 41,5% pasien ICU mengalami kecemasan berat, 31,7% kecemasan sedang, 9,8% kecemasan ringan, dan 9,8% kecemasan sangat berat. Hanya 7,3% pasien yang tidak mengalami gejala kecemasan. Hasil penelitian lain oleh Farishya et al. (2024) menunjukkan bahwa 53,3% pasien ICU mengalami kecemasan sedang, 33,3% berat, dan 13,3% sangat berat. Data ini menunjukkan bahwa kecemasan pada pasien ICU merupakan masalah yang signifikan dan membutuhkan perhatian khusus. Berbagai faktor diketahui dapat memengaruhi tingkat kecemasan pada pasien yang menjalani perawatan di ICU seperti penggunaan ventilator, efek sedasi, kebisingan lingkungan, keterbatasan komunikasi, kurangnya dukungan keluarga, serta gangguan pola tidur. Selain berdampak pada kenyamanan fisik, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan pasien dalam menghadapi situasi kritis. Dalam keadaan yang menuntut ketahanan psikologis tinggi seperti di ICU, kemampuan individu dalam menilai situasi, menyesuaikan diri, dan menentukan respons terhadap tekanan menjadi hal yang patut untuk diperhatikan secara lebih mendalam (Astuti et al., 2023). Dalam hal ini, berkaitan dengan cara mereka memahami, mengelola, dan merespons kondisi yang menekan, salah satunya adalah efikasi diri, yang berpotensi memberi gambaran mengenai kesiapan psikologis individu saat menghadapi perawatan intensif (Trisnawati et al., 2024). Efikasi diri merujuk pada keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya untuk mencapai tujuan dan mengatasi tantangan dalam hidup. Keyakinan ini memengaruhi cara seseorang berpikir, bertindak, dan merasakan dirinya dalam menghadapi berbagai situasi. (Hamid et al., 2024; Mufidah et al., 2022). Penelitian oleh Szota et al. (2024) menyebutkan bahwa aspek seperti status ekonomi, pendidikan, dan lingkungan sosial juga berperan dalam memengaruhi kondisi psikologis seseorang, termasuk dalam konteks efikasi diri dan kecemasan. Namun, banyak studi sebelumnya belum mengeksplorasi hubungan antara efikasi diri dengan kecemasan secara spesifik dalam konteks pasien ICU. Selain itu, penelitian Schlechter et al. (2022) juga menyebutkan pentingnya pendekatan yang mempertimbang- kan faktor-faktor sosial, budaya, dan dukungan lingkungan dalam mengembangkan intervensi psikologis berbasis peningkatan efikasi diri. Penelitian lain oleh Herlina, Hafifah, dan Diani (2020) menemukan bahwa mayoritas keluarga pasien ICU mengalami kecemasan sedang 50%. Penelitian ini juga belum memasukkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi kecemasan seperti status ekonomi, dukungan sosial, atau kondisi psikologis individu. Mengingat tingginya angka kecemasan di ICU dan peran penting efikasi diri dalam kehidupan sehari-hari, maka penelitian tentang hubungan antara efikasi diri dan kecemasan pada pasien ICU sangatlah penting. Kecemasan yang tidak terkendali dapat berdampak negatif pada proses penyembuhan pasien, sehingga perlu dilakukan upaya untuk mengurangi kecemasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan keperawatan dengan pendekatan psikologis yang komprehensif. Dengan memahami hubungan antara efikasi diri dan kecemasan. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat mendukung perawatan yang holistik bagi pasien ICU. Perawatan holistik tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada aspek psikologis dan spiritual pasien. Dengan demikian, pasien dapat menerima perawatan yang lebih menyeluruh dan efektif.