Knee joint atau lutut adalah sendi yang sangat kompleks, yang bisa bergerak dan membantu seseorang berjalan, serta dapat menahan tubuh dalam proporsi yang cukup besar. Knee joint dapat dikatan sebagai sendi engsel, dikarenakan struktur dan pergerakan sendi yang menyerupai engsel. Knee joint dapat membuat gerakan rotasi. Gerakan ini terjadi antara tibia dan meniscus. Posisi lutut berada diantara dua tulang panjang yaitu femur dan tibia perannya dalam bantalan berat menjadikan lutut rentan terjadi gangguan maupun cidera (Zaki, 2013). Kelainan yang sering terjadi pada knee joint adalah osteoarthritis. Osteoarthritis (OA) berasal dari (dari kata latin osteo artinya tulang, arthro artinya sendi, dan itis artinya inflamasi ). Osteoarthritis merupakan proses terjadinya inflamasi kronik pada sendi sinovium dan kerusakan mekanis pada kartilago sendi dan tulang. Berlangsungnya proses perlunakan dan sintegrasi tulang rawan sendi secara progresif, disertai dengan pertumbuhan baru tulang dan tulang rawan pada perbatasan sendi (osteofit). Terjadinya pembentukan krista dan sclerosis pada tulang sub-chondral, disertai sinovitis ringan fibrosis kapsuler. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh faktor resiko seperti umur (proses penuaan), genetic, kegemukan dan cidera sendi (Bontranger, 2018). Salah satu cara untuk mendiagnosis kelainan osteoarthritis pada knee joint adalah pemeriksaan sinar-x. Menurut Bontrager (2018), teknik pemeriksaan knee joint adalah teknik pemeriksaan radiografi konvensional yang menggunakan sinar x sehingga dapat mendiagnosis kelainan. Pemeriksaaan knee joint pada klinis osteoarthirits menggunakan proyeksi AP, Oblique (medial) Oblique (lateral), Lateral dan AP Weight Bearing Bilateral. AP weight bearing menampakkan gambaran perbandingan kedua sendi dengan posisi pasien bertumpu pada kedua kaki. Namun pada beberapa pasien osteoarthritis, sering mengalami kesulitan ketika harus berdiri karena kondisinya yang non kooperatif. Berdasarkan observasi yang penulis lakukan di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi pemeriksaan Knee Joint pada kasus Osteoartrithis menggunakan proyeksi tambahan Sunrise View Beberapa masalah penderita osteoarthritis yaitu tidak bisa mengikuti instruksi dalam posisi erect bila dipaksa akan menyiksa pasien, menyebabkan trauma bahkan kejadian tidak diinginkan. Sehingga membutuhkan bantuan keluarga pasien dalam pemeriksaan, akan tetapi hal ini tidak efektif bagi asas proteksi radiasi karena keluarga pasien ikut mendapatkan radiasi. Menurut penelitian yang membahas tentang pemeriksaan osteoarthritis yang dilakukan oleh Wagiarti, et.al (2016) menyatakan bahwa proyeksi skyline inferosuperior bisa digunakan sebagai salah satu proyeksi tambahan bila proyeksi AP dan lateral supine kurang informative. Sedangkan jurnal Melnic, et.al (2014) menyatakan proyeksi merchant method dapat di gunakan dalam mengevaluasi pasien dengan nyeri lutut dugaan osteoarthritis. Kedua proyeksi tersebut juga dapat digunakan pada pasien dalam keadaan non kooperatif dikarenakan kita dapat melihat celah sendi knee joint tanpa pasien harus berdiri. Sehingga peneliti ingin mengetahui solusi pemeriksaan pada pasien non kooperatif, yang dapat menghasilkan gambaran radiograf panunjang diagnose yang baik dengan proteksi radiasi yang tepat sehingga dapat dilakukan penanganan dengan cepat untuk klinis osteoarthritis. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam terkait teknik pemeriksaan knee joint pasien yang non kooperatif dengan klinis osteoarthritis dan mengangkatnya sebagai Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Teknik Pemeriksaan Sunrise View Knee Joint Pada Penderita Osteoartrithtis Di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi”.