Penyakit kardiovaskular atau Cardio Vascular Disease (CVD) merupakan Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan 17,9 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular setiap tahunnya dan sekitar 85% diantaranya disebabkan oleh serangan jantung dan stroke (WHO, 2025). Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa penyakit jantung terutama penyakit jantung iskemik dan penyakit jantung hipertensi, masih menjadi 10 besar penyebab kematian teratas per 100.000 populasi di Indonesia dengan angka kematian yang terus meningkat selama rentang waktu 2013-2023 (IHME, 2025). Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85% pada semua umur, sedangkan di Jawa Tengah tercatat sebanyak 0,79% (BPS, 2023). Kualitas hidup pasien penyakit jantung berhubungan signifikan dengan penyakit penyerta. Salah satu penyakit penyerta yang sering dijumpai adalah hipertensi, yaitu kondisi ketika tekanan darah di atas batas normal ? 140/90 mmHg (Fauziah et al., 2021). Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada dinding arteri dan mengakibatkan kerusakan endotel yang dapat memicu terbentuknya aterosklerosis (Handayani, 2025; Naomi et al., 2021). Peningkatan tekanan darah merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung, arteri ekstremitas bawah (lower extremity arterial disease), dan fibrilasi atrium (PERKI, 2022). Mencegah perburukan kondisi tersebut, terapi farmakologi dengan obat antihipertensi dapat menurunkan komplikasi kardiovaskular hingga risiko kematian (Rahmawati et al., 2024). Pengobatan hipertensi pada pasien penyakit jantung umumnya menggunakan terapi tunggal maupun kombinasi untuk mencapai kontrol tekanan darah yang optimal (Nasution et al., 2025). Oleh karena itu, keputusan pemilihan obat, manfaat dan risiko selalu menjadi pertimbangan utama dalam keamanan terapi antihipertensi (Sahputri et al., 2024). Pemilihan obat yang efektif dan aman dalam penggunaan obat antihipertensi jangka panjang sangat diperlukan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, pembahasan efektivitas maupun efek samping obat antihipertensi telah dilakukan secara terpisah tanpa memberikan gambaran menyeluruh dari kedua aspek tersebut secara bersamaan pada pasien jantung (Dwiputri et al., 2024; Helen, 2023; Sahputri et al., 2024). Efektivitas dan efek samping menjadi hal yang penting dilakukan untuk meningkatkan efikasi dan keamanan penggunaan obat secara optimal (Widyastuti et al., 2022). Sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Tengah, RSUD Dr. Moewardi Surakarta memiliki fasilitas Pelayanan Jantung Terpadu yang menangani berbagai kasus kardiovaskular, sehingga mendukung pelaksanaan penelitian ini (RSUD Dr. Moewardi, 2025). Maka dari itu, penting untuk mengetahui gambaran efektivitas dan efek samping obat antihipertensi pada pasien jantung di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.