Kanker paru merupakan jenis kanker dengan insiden tertinggi di dunia. Berdasarkan data global, diperkirakan terdapat 2,5 juta kasus kanker paru, menjadikannya kanker kedua paling umum pada pria (Thandra et al., 2021). Di Indonesia, kanker paru menjadi salah satu masalah kesehatan yang signifikan. Kanker ini menyumbang 12,6% dari kematian akibat kanker, menjadikannya penyebab utama kematian terkait kanker. Pada tahun 2018, kanker paru mencakup 8,6% dari seluruh kasus kanker (Andarini et al., 2023). Adenokarsinoma diketahui sebagai jenis histologis paling umum dari kanker paru, mencakup lebih dari 40% kasus kanker paru non-sel kecil (Lambe et al., 2020). Pada tahun 2020, kanker paru merupakan kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak pada pria di Indonesia, dengan 34.783 kasus baru tercatat, setara dengan 14,1% dari seluruh kasus kanker. Angka kejadian kanker paru pada pria diperkirakan mencapai 19,4 per 100.000 penduduk. Dari sisi mortalitas terkait kanker, kanker paru tetap menjadi penyebab utama kematian, dengan proporsi sebesar 13,2% (Asmara et al., 2023). Pada tahun 2019, terdapat lima provinsi dengan jumlah pasien kanker paru terbanyak, yaitu Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan (Sulaeman, Fitrie and Sedayu, 2024). Frekuensi kasus kanker paru di RSUD Dr. Moewardi, Surakarta, meningkat setiap tahunnya dengan penambahan sekitar 92 kasus baru setiap tahun. Pada enam bulan terakhir tahun 2016, tercatat terdapat 686 pasien kanker paru dengan rata-rata 155 pasien per bulan (22,59%) (Viska Wahyu Arianti et al., 2023). Karsinoma paru terutama adenokarsinoma sering bermetastasis ke pleura karena lokasinya yang diperifer dan cenderung lebih awal menyerang pleura. adenokarsinoma dengan rearrangement Echinoderm Microtubule-associated Protein-Like 4 - Anaplastic Lymphoma Kinase (EML4-ALK1) memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk metastasis ke pleura dan efusi maligna. Sementara metastasis melalui jalur limfatik biasanya membutuhkan waktu lebih lama hingga metastasis jauh terbentuk (Popper, 2016). Sangat penting untuk membedakan penyebab limfadenopati yang bersifat ganas atau jinak (Fiterman, Berkman and Kuint, 2022). Pada kejadian kanker, munculnya pembesaran kelenjar getah bening mediastinum yang tanpa gejala adalah jinak, namun dapat juga merupakan keganasan, sehingga evaluasi lebih lanjut sangat diperlukan (Chalian et al., 2022). Menurut penelitian sebelumnya mengenai hubungan limfonodi maligna pada dengan riwayat kanker menunjukkan bahwa maligna limfadenopati mediastinum merupakan fraktor prediktif pada kanker paru (Fiterman, Berkman and Kuint, 2022). Sepertiga pasien Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) stadium klinis IA menunjukkan metastasis kelenjar getah bening mediastinum (Martinez-Zayas et al., 2021). Kanker paru menjadi salah satu masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia dengan menyumbang 8,6% dari seluruh kasus kanker. Belum adanya penelitian serupa terkait hubungan metastasis subpleural adenokarsinoma paru dengan stasiun limfadenopati mediastinum. Hal tersebut menyebabkan peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan metastasis subpleural adenokarsinoma paru dengan stasiun limfadenopati mediastinum.