Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi dan insiden yang terus meningkat secara global, disertai prognosis buruk dan biaya perawatan tinggi, terutama akibat meningkatnya kasus diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung. GGK bersifat progresif dan irreversible, sehingga pada stadium lanjut memerlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis. Prevalensi global GGK stadium 1–5 mencapai 13,4% atau sekitar 843,6 juta orang, dengan sebagian besar pasien menjalani hemodialisis, termasuk di Indonesia yang menunjukkan angka kejadian cukup tinggi, khususnya di Jawa Tengah dan RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Pada tahap awal, GGK sering tidak bergejala namun dapat berkembang menjadi gagal ginjal terminal, sehingga skrining dan penanganan dini sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi. Salah satu masalah keperawatan utama pada pasien GGK adalah gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit, terutama kelebihan volume cairan yang dapat menyebabkan edema dan komplikasi serius. Penatalaksanaan keperawatan dilakukan melalui terapi farmakologis dan nonfarmakologis, seperti pengaturan diet, pembatasan cairan, serta edukasi kesehatan, guna mencegah komplikasi lebih lanjut dan meningkatkan kualitas hidup pasien.