Diabetes melitus tipe 2 (DM Tipe 2) telah menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat paling mendesak di dunia, termasuk Indonesia. Penyakit metabolik kronis ini ditandai oleh kadar glukosa darah tinggi akibat resistensi insulin atau defisiensi insulin relatif. Jika tidak dikelola dengan baik, DM Tipe 2 dapat menyebabkan komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular serius, seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal yang tidak hanya memperburuk kondisi fisik tetapi juga secara signifikan menurunkan kualitas hidup pasien (Banday et al., 2020). Prevalensi DM Tipe 2 di Indonesia terus meningkat dan diproyeksikan akan naik hingga 2045, menimbulkan beban kesehatan dan ekonomi yang besar bagi individu, keluarga, maupun sistem kesehatan nasional. Kondisi ini menegaskan urgensi penanganan DM Tipe 2 secara komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi beban sistem kesehatan (Wahidin et al., 2024). Manajemen DM Tipe 2 merupakan proses yang kompleks dan berkelanjutan, melibatkan kepatuhan terhadap terapi farmakologis, perubahan gaya hidup, serta pemantauan glukosa darah secara mandiri. Kesinambungan dalam manajemen diri sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup pasien. Namun, kepatuhan terhadap regimen pengobatan dan perubahan gaya hidup seringkali menjadi tantangan, yang dipengaruhi oleh faktor sosiodemografi seperti usia, pendidikan, pekerjaan, dan pengetahuan tentang penyakit. Pasien dengan literasi kesehatan rendah cenderung memiliki manajemen diri kurang optimal, yang dapat memperburuk kondisi penyakit mereka (Malini et al., 2023) . Dalam era digital, akses terhadap informasi kesehatan melalui internet semakin meluas, memungkinkan pasien memperoleh informasi secara cepat dan praktis. Kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi kesehatan dari sumber digital dikenal sebagai literasi kesehatan digital (literasi kesehatan digital), yang menjadi salah satu determinasi kesehatan modern. literasi kesehatan digital dapat meningkatkan akses pasien ke layanan dan informasi kesehatan, tetapi kekurangannya juga dapat memperlebar kesenjangan digital dan kesenjangan kesehatan (Lopez et al., 2023). Kepercayaan pasien terhadap informasi digital menjadi kunci efektivitas literasi kesehatan digital. Pasien membutuhkan informasi yang akurat untuk membuat keputusan kesehatan yang tepat terkait diet, pengobatan, dan gaya hidup. Namun, melimpahnya informasi juga menimbulkan tantangan berupa “infodemik”, yakni penyebaran informasi berlebihan termasuk hoaks dan misinformasi, yang menyulitkan pasien membedakan data yang valid dari yang tidak (Quezada-Ramírez et al., 2025). Kepercayaan epistemik pasien terhadap sumber informasi digital menjadi penentu utama apakah informasi tersebut akan digunakan dan diterapkan dalam manajemen diri. Studi menunjukkan bahwa sikap positif terhadap informasi kesehatan digital, yang mencerminkan tingkat kepercayaan, secara signifikan memengaruhi literasi kesehatan digital dan menjadi prediktor paling berpengaruh terhadap literasi kesehatan digital pada pasien diabetes usia menengah (Lee & Shim, 2025). Meskipun penelitian terdahulu telah menyoroti literasi kesehatan digital dan kepercayaan terhadap informasi digital, masih terdapat kesenjangan penelitian di Indonesia, khususnya di Surakarta. Belum ada studi yang secara komprehensif menganalisis hubungan antara tingkat kepercayaan terhadap informasi kesehatan digital dengan faktor-faktor sosiodemografi yang membentuk literasi kesehatan digital pada pasien DM Tipe 2. Banyak studi hanya meneliti literasi kesehatan digital secara umum atau menyinggung kepercayaan tanpa mendalami interaksi antara kepercayaan dan faktor-faktor sosiodemografi (Malini et al., 2023). Urgensi penelitian ini meningkat mengingat tingginya prevalensi DM Tipe 2 dan kebutuhan pasien akan informasi kesehatan yang akurat dan valid untuk manajemen penyakit yang optimal (Wahidin et al., 2024). Keterbatasan literasi kesehatan digital, yang diperparah oleh kurangnya kepercayaan atau paparan misinformasi, dapat menghambat pasien dalam membuat keputusan kesehatan yang tepat dan menjalankan perawatan secara optimal. Dengan meneliti hubungan antara kepercayaan terhadap informasi digital dengan faktor pada literasi kesehata digital pada pasien DM Tipe 2 di RSUD Dr.Moewardi Surakarta diharapkan memberikan pemahaman mendalam mengenai dinamika kepercayaan dan literasi kesehatan digital. Hasilnya dapat menjadi dasar pengembangan strategi edukasi kesehatan digital yang efektif, meningkatkan manajemen diri, kepatuhan pengobatan, dan pada akhirnya kualitas hidup pasien.