Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penyakit yang ditandai dengan penurunan struktur histologis dan fisiologis dari ginjal yang telah berjalan secara bertahap selama kurang lebih 3 bulan (Chen, Knicely and Grams, 2019) dan bersifat ireversibel (Mihai et al., 2018). PGK merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi dan menjadi beban dalam kesehatan dunia baik secara ekonomi maupun keterkaitannya dengan komplikasi pada penyakit kardiovaskuler (Bikbov et al., 2020). Prevalensi penyakit ginjal kronis di dunia mengalami peningkatan sebesar 29,3% pada 2017 dibandingkan tahun 1990 di semua usia (Bikbov et al., 2020). Pada data Riskesdas 2018 menunjukkan terdapat peningkatan prevalensi sebesar 1,8 per seribu penduduk, dari tahun 2013 sebesar 2,0 setiap seribu penduduk menjadi 3,8 per seribu penduduk pada tahun 2018. Populasi laki-laki mendominasi penyakit gagal ginjal kronis ini dengan prevalensi 4,17 permil dan perempuan 3,52 permil. Sedangkan prevalensi yang dibedakan berdasarkan tempat tinggal tidak terdapat begitu banyak perbedaan. Prevalensi pada perkotaan sebesar 3,85 per seribu penduduk dan di daerah pedesaan didapatkan 3,84 per seribu penduduk. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa prevalensi PGK cukup banyak di masyarakat baik perkotaan maupun pedesaan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018). Pasien yang terdiagnosis PGK dapat mengalami penurunan kualitas hidup, baik dari segi kebugaran fisik maupun dari segi ekonomi karena harus menjalani beberapa pengobatan dan treatment rutin untuk menurunkan gejala dan mengurangi progresivitas keparahan PGK tersebut. Salah satu pengobatan rutin yang diberikan kepada pasien PGK adalah hemodialysis (HD) meskipun bukan menjadi terapi definitif. PGK merupakan penyakit yang menjadi penyebab 90% hemodialysis, terutama pada pasien PGK derajat V. Proporsi pasien penyakit ginjal kronis di Indonesia yang sedang atau pernah menjalani HD sebesar 19,3%, sedangkan di Jawa Tengah sebesar 16,15% (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018). 1 2 Deteksi dini derajat keparahan atau risiko progresivitas penyakit pada PGK menjadi kunci dalam menjaga kualitas hidup atau kualitas hidup dari pasien PGK. Derajat keparahan secara kuantitatif ditentukan dengan laju filtrasi glomerulus (LFG). Pada dasarnya penurunan LFG berkaitan dengan terjadinya inflamasi pada glomerulus ginjal. Salah satu penanda inflamasi pada PGK adalah interleukin 1 (IL-1) (Su, Lei and Zhang, 2017). Interleukin 1 merupakan salah satu penanda inflamasi pada pasien PGK yang berkaitan dengan progresivitas penyakit dan terjadinya anemia. IL-1 atau dalam hal ini adalah superfamily IL-1 yang terdiri dari 11 sitokin baik agonis pro-inflamasi yang terdiri dari 7 (L-1?, IL-1?, IL-18, IL-36?, IL-36?, IL-36?, dan IL-33) maupun 4 anggota antagonis pro-inflamasi yaitu (IL-1RA, IL-36Ra, IL-37, and IL-38). IL-1? merupakan superfamily IL-1 yang memiliki karakteristik terbaik dimana IL-1? menyatu dalam reseptor IL-1 dan turut berkaitan pada aktivasi sistem imun dan terjadinya inflamasi (Petreski et al., 2021). Berbagai penelitian mengenai tatalaksana pada kondisi PGK telah menarget spesifik antibodi IL-1? dan menunjukkan bahwa hasil sangat baik dalam menurunkan inflamasi dan secara spesifik menurunkan IL-1 (Bandach, Segev and Landau, 2021), namun sangat disayangkan pengobatan dengan spesifik antibodi tersebut masih belum terjangkau di Indonesia. Untuk itu peneliti ingin mengetahui bagaimana cara menurunkan sekresi IL-1? atau IL-1 pada pasien PGK dengan cara yang mudah dan terjangkau. Salah satu cara yang telah ditemukan dan diprediksi dapat menurunkan tingkat inflamasi adalah dengan melakukan latihan fisik. Latihan fisik memiliki manfaat secara umum pada populasi normal. Pada pasien dengan PGK latihan fisik dapat memberikan efek yang beragam. Secara umum dengan latihan fisik yang tepat dan terprogram dan terukur latihan fisik akan memiliki manfaat dan tetap aman pada pasien dengan PGK (Johansen and Painter, 2012). Latihan fisik rutin terbukti memiliki efek yang baik terhadap kondisi pasien PGK. Latihan fisik dapat berupa latihan yang dilaksanakan sehari-hari diluar masa hemodialisis atau saat melakukan hemodialisis (intrahemodialytic exercise) (Mallamaci, Pisano and Tripepi, 2020). Latihan fisik rutin dapat menurunkan berbagai penanda inflamasi (Wong et al., 2017; 3 Monteiro-Junior et al., 2018) sehingga diharapkan dapat menurunkan progresivitas PGK