Pneumonia disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut yang menyerang paru-paru yang terdiri dari alveoli yang terisi udara saat seseorang bernapas, pada alveoli terdapat nanah dan cairan yang menyebabkan pernapasan terasa sakit dan dapat membatasi asupan oksigen(WHO, 2022). Menurut data dari organisasi kesehatan dunia (WHO) pneumonia menjadi penyakit penyebab kematian menular terbesar pada anak di seluruh dunia yang membunuh 14% dari seluruh angka kematian anak di bawah usia 5 tahun, sebanyak 740.180 anak meninggal pada tahun 2019, 22% dari seluruh angka kematian anak balita usia 1 hingga 5 tahun. (WHO, 2022) Di Indonesia pneumonia menjadi penyebab utama kematian anak, dengan prevalensi yang cukup tinggi. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2020, terdapat lebih dari 1,5 juta kasus. Pada anak usia 1-5 tahun gejala yang sering muncul yaitu batuk, kesulitan bernapas, dan tanda pneumonia berat seperti tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas. Kematian akibat dari pneumonia terjadi setiap 43 detik yang berarti 700 ribu anak meninggal setiap tahunnya akibat pneumonia. (Kemenkes, 2024) Program dalam pengendalian pneumonia saat ini lebih di prioritaskan kepada balita. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi pneumonia adalah dengan meningkatkan prevalensi pengobatan pneumonia. Pada tahun 2023 di Kota Surakarta angka perkiraan kasus pneumonia sebesar 974 kasus dan penemuan penanganan penderita pneumonia pada balita sebesar 452 kasus sekitar 46,40%. (Dinas Kesehatan Kota Surakarta, 2023). Pneumonia dapat disebabkan karena kebiasaan merokok dari lingkungan disekitar anak, penggunaan obat anti nyamuk bakar, tidak membuka ventilasi seperti jendela atau pintu ketika merokok di dalam rumah, serta adanya polusi udara karena wilayah yang dekat dengan pabrik besar (Junaedi, 2022). Pneumonia pada balita dapat ditandai dengan munculnya tanda dan gejala seperti pola napas yang cepat, kesulitan bernapas dan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam serta batuk. Pneumonia menular melalui udara dari penderita pneumonia tersebut, kemudian kuman dilepaskan ke udara sebagai droplet ke udara saat seseorang batuk atau bersin dengan demikian pneumonia merupakan jenis penyakit yang menular. Selanjutnya, kuman yang menyebabkan pneumonia masuk ke dalam saluran pernafasan manusia melalui proses menghirup udara atau dengan cara transmisi pribadi, yaitu menggunakan dan memegang benda-benda yang sudah terpapar dari saluran pernapasan seseorang yang menderita pneumonia. Percikan droplet dapat memicu balita tertular pneumonia di dalam atau luar rumah orang yang menderita pneumonia (Dinas Kesehatan Kota Surakarta, 2023). Dengan tingginya prevalensi penyakit pneumonia di Indonesia khususnya di Kota Surakarta, masalah utama yang terjadi yaitu oksigenasi. Sehingga perlu di tindak lanjuti agar tidak menyebabkan masalah yang semakin fatal. Tindakan pertama yang dapat dilakukan yaitu dengan pemberian oksigen dapat berupa nasal kanul atau masker oksigen, oksigen tersebut dapat membantu meredakan gejala sesak nafas. Oksigenasi merupakan kebutuhan paling dasar untuk kesehatan manusia. Pada penyakit pneumonia penumpukan sputum pada saluran pernapasan, pasien dapat memproduksi banyak sputum dan pengentalan cairan alveolar, peningkatan produksi sputum ini yang akan menyebabkan gangguan bersihan jalan napas sehingga masalah keperawatan yang menjadi prioritas utama pada penyakit pneumonia adalah bersihan jalan napas tidak efektif (Rembet & Wowor, 2023). Masalah keperawatan yang muncul pada pasien anak dengan pneumonia yaitu bersihan jalan napas tidak efektif karena disebabkan benda asing yang berawal dari secret berlebih berakumulasi. Obstruksi jalan napas adalah kondisi dimana individu mengalami ancaman pada pernapasannya karena ketidakmampuan batuk secara efektif sehingga sekresi kental atau berlebih akibat penyakit infeksi, imobilisasi, sekresi dan batuk tidak efektif (Ekowati et al., 2022). Bersihan jalan napas harus segera diatasi karena seseorang akan mengalami kesulitan bernapas serta gangguan pertukaran gas yang dapat menyebabkan hipoksia, yaitu kondisi dimana oksigen tidak tersedia dalam jumlah yang cukup pada jaringan untuk mempertahankan homeostasis. Hipoksia terjadi akibat pengiriman oksigen yang tidak memadai ke jaringan baik karena suplai darah yang rendah atau kandungan oksigen yang rendah dalam darah. Secara umum, hipoksia yang tidak segera tertangani akan berdampak luas pada sistem saraf pusat, kardiovaskular, pernapasan, dan metabolisme tubuh secara keseluruhan, yang jika tidak segera diatasi dapat berujung pada kegagalan organ multipel dan kematian (Krismiadi & Rahmadania, 2025). Intervensi yang dapat dilakukan sesuai dengan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dalam mengatasi masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif pada pasien anak dengan pneumonia dapat berupa, batuk efektif, manajemen jalan nafas, pemantauan respirasi, pemberian obat inhalasi, fisioterapi dada, dan sebagainya (PPNI, 2022b). Dalam mengatasi masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif dengan melakukan kolaborasi pemberian obat inhalasi (PPNI, 2022b). Nebulizer merupakan pengobatan dengan memberikan obat melalui penghirupan, obat-obatan terlebih dahulu dipecahkan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dengan cara aerosol atau humidifikasi. Dengan tujuan relaksasi dari spasme bronchial, mengencerkan secret melancarkan jalan napas, melembabkan saluran pernapasan (Palupi et al., 2023). Berdasarkan hasil penelitian dari Kerget et al., (2024) jenis nebulizer yang paling efektif dan sering digunakan di rumah sakit adalah Jet nebulizer with corrugated tubing karena umumnya lebih terjangkau untuk digunakan dalam jumlah besar di rumah sakit. Jet nebulizer efektif dalam menghantarkan obat yang memerlukan dosis tinggi serta mampu untuk melarutkan obat kental. Dari uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada kasus tersebut sebagai Proposal Karya Tulis Ilmiah dengan judul ” Tindakan Pemberian Terapi Inhalasi Nebulizer Untuk Meningkatkan Bersihan Jalan Napas Pada Pasien Anak Dengan Pneumonia Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta”.