Penyakit Kardiovaskular merupakan penyakit yang menyebabkan mortalitas dan morbiditas paling tinggi di negeri maju dan berkembang (Farida Tampubolon et al., 2023). Penyakit kardiovaskular yang berbahaya dan memerlukan pembiayaan yang cukup besar yaitu Acute Coronary Syndrome (ACS), angina stabil, angina tidak stabil, revaskularisasi coroner, revaskularisasi arteri, stroke, serangan jantung iskemik, dan Infark Miokard Akut (IMA) (Goldsborough et al., 2022). Penyakit kardiovaskular masuk ke dalam penyakit tidak menular akan tetapi mempunyai angka kematian yang paling tinggi. Faktor risiko yang menyebabkan penyakit kardiovaskular bersifat multifaktoral, baik yang sifatnya dapat dimodifikasi maupun yang sifatnya tidak dapat dimodifikasi (Parlindungan Pane et al., 2022). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan, orang yang meninggal disebabkan oleh penyakit kardiovaskular mencapai 17,9 juta jiwa, sebanyak 85% dari jumlah kasus tersebut (15,2 juta jiwa) meninggal disebabkan oleh penyakit Infark Miokard Akut (IMA) dan stroke (World Health Organization (WHO), 2021). Sedangkan kematian di Indonesia yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular mencapai 651.481 jiwa per tahun (Kemenkes RI, 2023). Prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia menurut SKI (2023) menunjukkan sebanyak 877.531 jiwa dari total penduduk Indonesia mengalami penyakit jantung. Sedangkan di Jawa Tengah menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter pada semua umur di Jawa Tengah sebanyak 0,79% dari jumlah penduduk yaitu sekitar 118.184 jiwa (Kebijakan Pembangunan, 2023). Menurut data yang ada di profil keseharan Kota Surakarta tahun 2023 penyakit hipertensi (penyakit kardiovaskular) masih menempati posisi paling tinggi dari seluruh penyakit tidak menular yang dilaporkan, yaitu sebesar 78,65% atau sebanyak 67.355 jiwa dari seluruh penduduk yang berada di Kota Surakarta (Dinas Kesehatan Kota Surakarta, 2023). Berdasarkan data tersebut berarti Kota Surakarta memiliki risiko tinggi akan terjadinya penyakit jantung seperti stroke, angina pectoris, dan Infark Miokard Akut (IMA) jika penyakit hipertensi yang berada di Kota Surakarta tidak dikelola dengan baik. Berdasarkan data dari hasil studi pendahuluan yang di lakukan oleh Putri Ayu Setianingrum pada tahun 2022 yang diperoleh dari data rekam medis RSUD Dr. Moewardi Surakarta terdapat 447 pasien dengan Infark Miokard Akut (IMA) di ICVCU RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada tahun 2021 dan pada tahun 2019-2020 terdapat 876 pasien dengan Infark Miokard Akut (IMA) di ICVCU RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Infark Miokard Akut (IMA) adalah terjadinya kematian sel-sel jantung yang disebabkan oleh kurang terpasoknya oksigen yang berkepanjangan ke pembuluh darah jantung. Penyebab paling sering penyakit Infark Miokard Akut (IMA) adalah terjadinya sumbatan atau terputusnya jalur suplai oksigen pada arteri koroner akibat dari pecahnya lapisan aterosklerotik yang sensitive serta diikuti oleh adanya pembentukan thrombus (Barangkau, 2023). Tanda dan gejala dari penyakit Infark Miokard Akut (IMA) adalah nyeri dada yang dirasakan begitu hebat dan timbul secara terus-menerus, bahkan rasa nyeri yang dirasakan oleh penderita bisa menjalar ke lengan kiri dan punggung seperti tertekan, diremas-remas, terbakar, atau ditusuk. Timbul tiba-tiba dengan intensitas tinggi, berat ringan bervariasi. Selain rasa nyeri pasien Infark Miokard Akut (IMA) juga mengeluhkan sesak napas, mual, muntah, keringat dingin, jantung berdebar, dan pusing. Sesak napas ditandai dengan napas terasa pendek, detak jantung meningkat, terdapat tanda gagal jantung, syok kemudian terjadi penurunan saturasi oksigen