Penyakit Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kondisi di sistem endokrin di mana kerusakan nefron secara bertahap dan tidak dapat diperbaiki menyebabkan penurunan fungsi regulasi dan ekstetorik ginjal, yang mengakibatkan tubuh tidak dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Penyakit ini menyebabkan fungsi ginjal melambat, yang mengakibatkan ginjal tidak dapat membuang produk sisa untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh (Wachidah Yuniartika, Fitri Karunia Febina, 2022). Salah satu dari sepuluh penyebab kematian tertinggi adalah gangguan ginjal kronis. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jumlah penderita gagal ginjal pada tahun 2019 adalah lebih dari 1,3 juta jiwa, dengan 198.735 kasus di Indonesia yang dilaporkan oleh Indonesian Renal Registry (IRR) pada tahun 2018. Selain itu, persentase penderita gagal ginjal kronik di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2018 mencapai 96.794 jiwa. Proses penyembuhkan atau memperbaiki fungsi ginjal, prosedur hemodialisa harus dilakukan dua hingga tiga kali dalam sepekan dengan interval empat hingga lima jam (Wachidah Yuniartika, Fitri Karunia Febina, 2022). Pengobatan terakhir untuk pasien dengan gagal ginjal kronik adalah hemodialisa, yang mengubah fungsi ginjal dengan mengubah zat terlarut dalam darah menjadi cairan dialisat atau sebaliknya dengan alat dyalizer. Ini memungkinkan pengeluaran zat sisa metabolisme dan zat sisa yang menumpuk di tubuh (Malinda et al., 2022). Penyakit gagal ginjal tidak sepenuhnya dapat disembuhkan dengan hemodialisa, tetapi hanya membantu mengembalikan fungsi ginjal. Akibat hemodialisa termasuk difusi, osmosis, hipotensi, kram otot, mual, muntah, sakit kepala, nyeri dada, gatal-gatal, kelelahan, demam, dan menggigil. Selain itu, masalah yang kompleks dapat berdampak pada kondisi psikiatrik pasien, karena ditemukan kecemasan sebelum, saat, dan setelah tindakan, sehingga mengganggu kepatuhan pasien terhadap terapi, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kematian (Wahida et al., 2023). Pasien hemodialisa banyak mengalami masalah biologis dan psikososial selama proses hemodialisa, yang menyebabkan kecemasan, depresi, isolasi sosial, kesepian, dan putus asa (Zees & Lapradja, 2021). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Manurung (2018) di RSU HKBP Balige Toba Samosir menunjukkan bahwa 5 (62,5%) dari 8 pasien yang menjalani hemodialisa mengalami kecemasan saat menjalani tindakan tersebut, penelitian lain yang dilakukan oleh Orchida et al (2023) terdapat 95 % pasien gagal ginjal mengalami kecemasan akibat pertama kali menjalani tindakan hemodialisa, tetapi tidak menutupi pasien yang sudah lama menjalani hemodialisa juga mengalami kecemasan dikarenakan terbayang-bayang akan kematian. Bagi pengidap penyakit terminal seperti gagal ginjal kecemasan menjadi masalah besar, dimana pengidap gagal ginjal harus menjalani tindakan hemodialisa sepanjang hidup untuk proses penyembuhan penyakitnya, dan mereka merasa bahwa setiap tindakan yang dilakukan adalah hal yang berulang-ulang dan sangat menakutkan, yang berdampak pada pekerjaan mereka, aktivitas sehari-hari, dan peran mereka dalam masyarakat. Untuk mengatasi kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa, managemen kecemasan dapat dilakukan dengan menggabungkan pengobatan farmakologis dan non-farmakologis. Obat-obatan farmakologis biasanya termasuk obat-obatan seperti alprazolam triazolobenzodiazepine, sedangkan pengobatan non-farmakologis seperti terapi afirmasi positif (Soeli et al., 2021). Terapi afirmasi positif merupakan terapi yang dapat dilakukan, dengan berusaha untuk menanamkan nilai – nilai yang positif pada pikiran pasien sehingga pasien merasa yakin terhadap keinginannya dan akan terus berusaha untuk mewujudkannya, selain hal tersebuh afirmasi positif dapat meningkatkan kepercayaan pada pasien (Harisa et al., 2023). Pengaplikasian terapi afirmasi positif pada pasien penderita gagal ginjal yang sedang menjalani hemosialisa. Pasien diharapkan dapat memperkatakan, melakukan, memikirkan, dan menuliskan hal yang baik untuk proses pengobatan, dengan menggunakan buku yang memiliki warna dan tema yang menarik mempengaruhi kinerja saraf simpatik-parasimpatik sehingga membangun suasana hati sehingga terhindar dari rasa cemas (Pratiwi et al., 2016). Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Jaya, Indra Frana & Akbar, Agung (2023) membuktikan bahwa terapi afirmasi positif berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa, sebelum dan setelah dilakukan intervensi selama 4 kali dimana diukur mengunakan kuisioner Hamilton Anxiety Rating Scale yang kemudian dilakukan pengujian dengan uji t-test didapati nilai p value = 0,000. Latar belakang diatas mendasari peneliti untuk melakukan penelitian pengaruh terapi afirmasi postif terhadap kecemasan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani tindakan hemodialisa dengan kombinasi penggunnaan media buku warna untuk menguatkan terapi afirmasi positif dengan data yang telah diperoleh melalui penelitian mengenai terapi warna terhadap remaja yang dilakukan oleh Aysha (2016) membuktikan bahwa terapi warna dapat menurunkan kecemasan pada remaja menggunakan uji analisis mann whitney pada 10 responden, bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok control dan kelompok eskperimen setelah kelompok eksperimen diberikan perlakukan (Z = -2,619; p = 0,09). Penelitian lain mengenai pengaruh warna terhadap penurunan tingkat kecemasan yang dilakukan oleh Suli et al (2020) meneliti mengenai pengaruh green colour breathing therapy terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa, menunjukkan bahwa warna hijau dapat menciptakan suasana hati yang nyaman, santai, menyeimbangkan, dan menenangkan, menjadikannya salah satu warna yang dapat digunakan untuk relaksasi, dibuktikan dengan hasil uji statistic didapati p value 0,001 < 0,05. Berdasarkan data penelitian sebelumnya pasien gagal ginjal kronis di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2023 periode bulan Januari-Juli 2023 yang menjalani tindakan hemodialisa di RSUD Dr. Moewardi Surakarta berjumlah 717 pasien, terdiri dari 429 pasien laki-laki, 288 pasien perempuan. Di ruang rawat inap Flamboyan 8 periode Januari-Juli 2023, didapati 176 pasien dengan 4 pasien perempuan sedang menjalani rawat inap, 93 pasien laki-laki dan 66 pasien perempuan sudah pulang, 7 pasien laki-laki dan 6 pasien perempuan meninggal dunia.