SIPUS IMOET

(SISTEM PERPUSTAKAAN DIGITAL RSUD Dr. MOEWARDI TERPADU)

  • Jurnal IBEHS
  • Pendaftaran Sipus Imoet
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Perpustakaan Jejaring
    Perpustakaan ITS PKU Perpustakaan UMS Perpustakaan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Arpusda Jateng Perpustakaan UNS
  • Area Anggota
    Masuk Daftar Online
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of PENGARUH TERAPI AFIRMASI POSITIF TERHADAP KECEMASAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI TINDAKAN HEMODIALISA DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA

Text

PENGARUH TERAPI AFIRMASI POSITIF TERHADAP KECEMASAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI TINDAKAN HEMODIALISA DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA

VIAN SURYA PRATAMA, NIM P27220021185 - Nama Orang;

Tidak Tersedia Deskripsi


Ketersediaan
P03356S370 Via PPERPUSTAKAAN RSUD Dr. MOEWARDI (PDF)Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA PROGRAM SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
No. Panggil
370 Via P
Penerbit
Surakarta : ., 2024
Deskripsi Fisik
148 Hlm, Illus : 30 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
370 Via P
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
2024
Subjek
Skripsi (Karya Ilmiah)
Info Detail Spesifik
Penyakit Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kondisi di sistem endokrin di mana kerusakan nefron secara bertahap dan tidak dapat diperbaiki menyebabkan penurunan fungsi regulasi dan ekstetorik ginjal, yang mengakibatkan tubuh tidak dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Penyakit ini menyebabkan fungsi ginjal melambat, yang mengakibatkan ginjal tidak dapat membuang produk sisa untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh (Wachidah Yuniartika, Fitri Karunia Febina, 2022). Salah satu dari sepuluh penyebab kematian tertinggi adalah gangguan ginjal kronis. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jumlah penderita gagal ginjal pada tahun 2019 adalah lebih dari 1,3 juta jiwa, dengan 198.735 kasus di Indonesia yang dilaporkan oleh Indonesian Renal Registry (IRR) pada tahun 2018. Selain itu, persentase penderita gagal ginjal kronik di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2018 mencapai 96.794 jiwa. Proses penyembuhkan atau memperbaiki fungsi ginjal, prosedur hemodialisa harus dilakukan dua hingga tiga kali dalam sepekan dengan interval empat hingga lima jam (Wachidah Yuniartika, Fitri Karunia Febina, 2022). Pengobatan terakhir untuk pasien dengan gagal ginjal kronik adalah hemodialisa, yang mengubah fungsi ginjal dengan mengubah zat terlarut dalam darah menjadi cairan dialisat atau sebaliknya dengan alat dyalizer. Ini memungkinkan pengeluaran zat sisa metabolisme dan zat sisa yang menumpuk di tubuh (Malinda et al., 2022). Penyakit gagal ginjal tidak sepenuhnya dapat disembuhkan dengan hemodialisa, tetapi hanya membantu mengembalikan fungsi ginjal. Akibat hemodialisa termasuk difusi, osmosis, hipotensi, kram otot, mual, muntah, sakit kepala, nyeri dada, gatal-gatal, kelelahan, demam, dan menggigil. Selain itu, masalah yang kompleks dapat berdampak pada kondisi psikiatrik pasien, karena ditemukan kecemasan sebelum, saat, dan setelah tindakan, sehingga mengganggu kepatuhan pasien terhadap terapi, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kematian (Wahida et al., 2023). Pasien hemodialisa banyak mengalami masalah biologis dan psikososial selama proses hemodialisa, yang menyebabkan kecemasan, depresi, isolasi sosial, kesepian, dan putus asa (Zees & Lapradja, 2021). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Manurung (2018) di RSU HKBP Balige Toba Samosir menunjukkan bahwa 5 (62,5%) dari 8 pasien yang menjalani hemodialisa mengalami kecemasan saat menjalani tindakan tersebut, penelitian lain yang dilakukan oleh Orchida et al (2023) terdapat 95 % pasien gagal ginjal mengalami kecemasan akibat pertama kali menjalani tindakan hemodialisa, tetapi tidak menutupi pasien yang sudah lama menjalani hemodialisa juga mengalami kecemasan dikarenakan terbayang-bayang akan kematian. Bagi pengidap penyakit terminal seperti gagal ginjal kecemasan menjadi masalah besar, dimana pengidap gagal ginjal harus menjalani tindakan hemodialisa sepanjang hidup untuk proses penyembuhan penyakitnya, dan mereka merasa bahwa setiap tindakan yang dilakukan adalah hal yang berulang-ulang dan sangat menakutkan, yang berdampak pada pekerjaan mereka, aktivitas sehari-hari, dan peran mereka dalam masyarakat. Untuk mengatasi kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa, managemen kecemasan dapat dilakukan dengan menggabungkan pengobatan farmakologis dan non-farmakologis. Obat-obatan farmakologis biasanya termasuk obat-obatan seperti alprazolam triazolobenzodiazepine, sedangkan pengobatan non-farmakologis seperti terapi afirmasi positif (Soeli et al., 2021). Terapi afirmasi positif merupakan terapi yang dapat dilakukan, dengan berusaha untuk menanamkan nilai – nilai yang positif pada pikiran pasien sehingga pasien merasa yakin terhadap keinginannya dan akan terus berusaha untuk mewujudkannya, selain hal tersebuh afirmasi positif dapat meningkatkan kepercayaan pada pasien (Harisa et al., 2023). Pengaplikasian terapi afirmasi positif pada pasien penderita gagal ginjal yang sedang menjalani hemosialisa. Pasien diharapkan dapat memperkatakan, melakukan, memikirkan, dan menuliskan hal yang baik untuk proses pengobatan, dengan menggunakan buku yang memiliki warna dan tema yang menarik mempengaruhi kinerja saraf simpatik-parasimpatik sehingga membangun suasana hati sehingga terhindar dari rasa cemas (Pratiwi et al., 2016). Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Jaya, Indra Frana & Akbar, Agung (2023) membuktikan bahwa terapi afirmasi positif berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa, sebelum dan setelah dilakukan intervensi selama 4 kali dimana diukur mengunakan kuisioner Hamilton Anxiety Rating Scale yang kemudian dilakukan pengujian dengan uji t-test didapati nilai p value = 0,000. Latar belakang diatas mendasari peneliti untuk melakukan penelitian pengaruh terapi afirmasi postif terhadap kecemasan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani tindakan hemodialisa dengan kombinasi penggunnaan media buku warna untuk menguatkan terapi afirmasi positif dengan data yang telah diperoleh melalui penelitian mengenai terapi warna terhadap remaja yang dilakukan oleh Aysha (2016) membuktikan bahwa terapi warna dapat menurunkan kecemasan pada remaja menggunakan uji analisis mann whitney pada 10 responden, bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok control dan kelompok eskperimen setelah kelompok eksperimen diberikan perlakukan (Z = -2,619; p = 0,09). Penelitian lain mengenai pengaruh warna terhadap penurunan tingkat kecemasan yang dilakukan oleh Suli et al (2020) meneliti mengenai pengaruh green colour breathing therapy terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa, menunjukkan bahwa warna hijau dapat menciptakan suasana hati yang nyaman, santai, menyeimbangkan, dan menenangkan, menjadikannya salah satu warna yang dapat digunakan untuk relaksasi, dibuktikan dengan hasil uji statistic didapati p value 0,001 < 0,05. Berdasarkan data penelitian sebelumnya pasien gagal ginjal kronis di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2023 periode bulan Januari-Juli 2023 yang menjalani tindakan hemodialisa di RSUD Dr. Moewardi Surakarta berjumlah 717 pasien, terdiri dari 429 pasien laki-laki, 288 pasien perempuan. Di ruang rawat inap Flamboyan 8 periode Januari-Juli 2023, didapati 176 pasien dengan 4 pasien perempuan sedang menjalani rawat inap, 93 pasien laki-laki dan 66 pasien perempuan sudah pulang, 7 pasien laki-laki dan 6 pasien perempuan meninggal dunia.
Pernyataan Tanggungjawab
VIAN SURYA PRATAMA, NIM P27220021185
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
  • Harap masuk untuk melihat lampiran
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

SIPUS IMOET
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

SIPUS IMOET (Sistem Informasi Perpustakaan Terpadu) RSUD Dr. Moewardi adalah sistem yang mencakup
1.Layanan Online Public Accees Catalogue (OPAC) atau pencarian ketersediaan buku-buku cetak di Perpustakaan RSUD Dr. Moewardi dan Akses Karya Ilmiah
2.Layanan E-Library RSDM

   Download aplikasi E-Library RSDM
3. Layanan Titik baca dengan radius akses maksimal 300 meter dari titik induk 
- TITIK BACA GEDUNG FLAMBOYAN LANTAI 11
- TITIK BACA GEDUNG WIJAYA KUSUMA LANTAI 1

KRITIK DAN SARAN PENGGUNA PERPUSTAKAAN DAN USULAN BUKU BARU, KLIK DI BAWAH INI
FORMULIR KEPUASAN PENGGUNA PERPUSTAKAAN, KRITIK DAN SARAN SERTA USULAN BUKU BARU

PERMOHONAN PEMBUATAN SURAT BEBAS PERPUSTAKAAN
PERSYARATAN PEMBUATAN SURAT BEBAS PERPUSTAKAAN
 

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik