Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit kronis yang tidak dapat ditularkan dari individu satu ke individu yang lain. Prevalensi penyakit tidak menular masih banyak ditemukan di seluruh dunia dan menjadi perhatian khusus untuk diatasi. Penyakit tidak menular meliputi hipertensi, diabetes mellitus, gagal ginjal, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) (Putri et al., 2022). Gagal ginjal kronik merupakan kerusakan ginjal progresif ditandai dengan uremia (urea dan limbah lain yang beredar di dalam darah serta komplikasinya jika tidak di lakukan dialisis atau transplantasi ginjal). Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan suatu gejala klinis karena penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, gagal ginjal juga menyebabkan kematian apabila tidak dilakukan terapi pengganti, karena kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme dan elektrolit (Damanik, 2020). Prevalensi Penyakit Ginjal Kronis di Indonesia saat ini menurut data dari Survei Kesehatan Dasar Nasional 2018 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018), sebuah studi deskriptif cross-sectional di 34 provinsi, 416 kabupaten dan 98 kota di Indonesia Prevalensi CKD adalah 0,5%. Survei ini sebagian besar melibatkan orang dewasa muda berusia 18-59 tahun (83,1%) dengan usia rata-rata (SD) 44,3 (15,1) tahun. Drug Related Problems (DRPs) merupakan kejadian yang tidak diharapkan dari pengalaman pasien akibat terapi obat sehingga kenyataannya potensial mengganggu keberhasilan penyembuhan yang diharapkan. Kategori DRPs meliputi indikasi yang tidak diterapi, obat dengan indikasi yang tidak sesuai, obat salah, interaksi obat, overdosis, dosis subterapi, Adverse Drug Reactions dan kegagalan dalam menerima, Drug Related Problems (DRPs) sebenarnya peristiwa yang telah terjadi pada pasien, sedangkan potensial Drug Related Problems (DRPs) adalah suatu peristiwa yang kemungkinan besar akan terjadi jika apoteker tidak melakukan intervensi yang tepat untuk mengurangi DRPs tersebut sehingga terjadinya Drug Related Problems (DRPs) dapat mengurangi pencapaian terapi yang diharapkan pada pasien (Darojat, 2018). Salah satu penyebab dari kejadian Adverse Drug Reactions adalah interaksi obat. Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa sebanyak 4,62% dan 8,7% pasien dengan potensial interaksi obat mengalami ADRs, bahkan lebih dari 20%. Kematian yang disebabkan oleh ADR akibat interaksi obat lebih dari 100.000 tiap tahun. Tenaga kesehatan sering tidak menyadari risiko klinis kombinasi obat tertentu. Kasus kegagalan terapi yang dapat dicegah akibat interaksi obat di dunia masih cukup tinggi. Berdasarkan WHO Global Individual Case Safety Report database, selama periode 20 tahun ditemukan 3766 kasus yang dilaporkan berhubungan dengan interaksi obat (Kurniawati et al., 2021). Salah satu masalah terkait obat yang sering terjadi pada penyakit gagal ginjal kronik adalah ketidak tepatan dosis obat yang digunakan. Salah satu fungsi ginjal adalah memproses metabolisme dan ekskresi suatu obat, sehingga fungsi ginjal sangat penting untuk menghindari efek toksik suatu obat. Pasien yang memiliki gangguan pada ginjal sering mengalami perubahan pada parameter farmakokinetik dan farmakodinamiknya. Oleh karena itu, dalam pemilihan obat untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal harus mendapatkan pertimbangan khusus untuk obat yang diresepkan terkadang masalah terkait obat tersebut diabaikan. Selain itu, dapat dipengaruhi oleh interaksi obat. Interaksi obat adalah adanya perubahan aktivitas obat akibat pemakaian obat secara bersamaan seperti menurunkan atau meningkatkan efek obat, dan meningkatkan atau menurunkan kadar obat yang digunakan dalam darah. Interaksi yang terjadi dapat menyebabkan dosis obat yang sudah tepat berubah menjadi tidak tepat sehingga dibutuhkannya penyesuaian dosis pada terapi penyakit gagal ginjal kronik (Ayuningtya, 2022). Berdasarkan penelitian sebelumnya pada “evaluasi drug related problem (DRPs) kategori ketepatan dosis pada pasien gagal ginjal kronik di instalasi rawat inap rumah sakit khusus ginjal ny. r. a. habibie bandung” terdapat 23 kejadian interaksi dari obat-obat yang membutuhkan penyesuaian dosis yang berpotensi mempengaruhi aktivitas obat. Jumlah total kejadian tersebut, interaksi obat yang berpotensi menurunkan kadar atau efek obat dalam tubuh pada pasien GGK terjadi sebanyak18 kejadian (78.26%) dan yang berpotensi meningkatkan kadar atau efekobat dalam tubuh terjadi sebanyak 5 kejadian (21.74%). Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka perlu adanya penelitian mengenai drug related problems kategori salah obat, dosis rendah, dosis lebih dan interaksi obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta karena penelitian sebelumnya belum ada di Rumah Sakit tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui interaksi obat di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta.