Kesehatan bayi baru lahir merupakan indikator utama keberhasilan sistem kesehatan, namun masa neonatal terutama enam hari pertama kehidupan masih menjadi periode dengan risiko kematian tertinggi, salah satunya akibat kelainan kongenital seperti Penyakit Jantung Bawaan (PJB), yaitu kelainan struktural jantung atau pembuluh darah besar yang sudah terjadi sejak masa janin; secara global WHO melaporkan 2,3 juta kematian neonatal pada tahun 2022 dengan kelainan kongenital sebagai penyebab utama, di Indonesia tahun 2024 tercatat 26.657 kematian neonatal dengan 9,07% disebabkan kelainan kongenital, dan di Jawa Tengah AKN 2024 sebesar 5,8 per 1.000 kelahiran hidup dengan 15,87% akibat kelainan kongenital, sementara di Kota Surakarta AKN masih 5,5 per 1.000 kelahiran hidup sehingga tetap memerlukan penguatan mutu pelayanan neonatal. RSUD Dr. Moewardi sebagai rumah sakit rujukan tersier menunjukkan beban kasus PJB yang tinggi dengan ribuan kunjungan rawat jalan dan rawat inap anak usia di bawah lima tahun, termasuk bayi baru lahir, sehingga peran pelayanan kesehatan dalam skrining dan deteksi dini menjadi sangat penting. Keterlambatan skrining dan diagnosis PJB dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular hingga kematian neonatal, sehingga saat ini skrining bayi baru lahir menggunakan pulse oximetry pada usia 24–48 jam direkomendasikan karena efektif, murah, cepat, dan memiliki akurasi tinggi serta tingkat positif palsu rendah. Berbagai penelitian menunjukkan pulse oximetry efektif dalam mendeteksi dini PJB, namun data lokal mengenai penerapannya di satu fasilitas pelayanan kesehatan masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan gambaran hasil skrining PJB di RSUD Dr. Moewardi Surakarta sebagai dasar evaluasi program dan peningkatan mutu pelayanan neonatal, sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian berjudul “Gambaran Hasil Skrining Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada Bayi Usia 24–48 Jam di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.”