Hasil data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukan prevelensi stroke di Jawa Tengah sebesar 8,4%. Prevelensi stroke tertinggi pada tahun 2023 yang terdiagnosis adalah pada usia 75 tahun keatas (41,3%), 65-74 tahun (35,4%), 55-64 tahun (23,6%), 45-54 tahun (8,9%), 35-44 tahun (2,0%), 25-34 tahun (0,5%), dan 15-24 tahun (0,1%) (BKPS, 2023). Penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2024), menunjukkan penggunaan obat pada stroke iskemik paling banyak adalah golongan obat antihipertensi yaitu sebanyak 72 pasien (100%), obat golongan antiplatelet sebanyak 66 pasien (91,6%), dan obat golongan neuroprotektan sebanyak 63 pasien (87,5%). Sebaliknya, pada penelitian yang dilakukan oleh Poana (2020), penggunaan obat pada stroke hemoragik paling banyak adalah obat golongan saluran cerna sebanyak 190 pasien (25,6%), obat golongan kardiovaskular sebanyak 102 pasien (17%), obat golongan larutan elektrolit sebanyak 87 pasien (14,5%), dan golongan antifibrinolitik sebanyak 48 pasien (7,92%).Berdasarkan uraian tersebut penting dilakukan penelitian tentang pola peresepan penyakit stroke pada lansia di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengobatan stroke iskemik dan hemoragik pada lansia. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2024) dan Poana (2020) yang hanya membahas peresepan obat salah satu stroke iskemik atau hemoragik sedangkan pada penelitian ini membahas kedua tipe stroke yaitu iskemik dan hemoragik, ketepatan dosis, serta usia pasien.