Indikator kesejahteraan suatu bangsa salah satunya dapat dinilai dari jumlah kasus kematian bayi & ibu. Semakin tinggi kasus kematian pada bayi & ibu, semakin rendah tingkat kesejahteraan bangsa tersebut.Salah satu penyebab tingginya kasus kematian bayi di Indonesia yaitu preeklamsia (Kemenkes RI, 2014). Preeklamsia yaitu kumpulan gejala multisistem yang umumnya terjadi pada kehamilan di atas 20 minggu atau triwulan kedua pada wanita hamil yang memiliki tekanan darah normal (normotensi) sebelum kehamilan (Rana et al., 2019). Salah satu komplikasi preeklamsia adalah BBLR. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) diartikan sebagai berat janin < 2500 gram saat lahir (Amiruddin & Hasmi, 2014). Preeklamsia dapat terjadi sebagai akibat dari kegagalan proses perubahan arteri spiralis di plasenta. Kegagalan tersebut akan menyebabkan adanya ketidakseimbangan antara faktor anti-angiogenik dan pro-angiogenik, yang dapat berakibat pada kerusakan endotel. Hal tersebut akan mempengaruhi aliran darah ke plasenta dari uterus sehingga akan berpengaruh pada proses tumbuh kembang pada janin. Gangguan tumbuh dan kembang pada janin disebabkan janin tersebut mengalami penurunan suplai oksigen dan darah dari ibunya (Amalia et al., 2020).Selanjutnya, hal tersebut akan berpengaruh pada berat badan janin. Ukah et al (2017) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan plasenta sehingga mengakibatkan bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah kasus preeklamsia, yaitu sekitar 70%.