Angka Kematian Ibu di Indonesia merupakan salah satu tertinggi di Asia Tenggara dan jauh dari target SDG’s yaitu 183 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun tahun 2024 dan kurang dari 70 per 100.000 kelahiran baru pada tahun 2023 (Yuniati et al., 2023). Salah satu penyebab kematian ibu tertinggi adalah preeklampsia. Preeklampsia mempunyai risiko dan dampak yang signifikan terhadap kesehatan ibu dan janin. Hal ini berkaitan dengan risiko kematian ibu dan perinatal, dan keterbatasan definitif terhadap kehidupan anak (Ramos et al., 2017). Kejadian preeklampsia dapat disebabkan oleh beberapa faktor penyebab yaitu usia ibu hamil, kehamilan pertama, riwayat keluarga, kehamilan kembar, jarak waktu kehamilan mancapai 10 tahun atau lebih, dan riwayat penyakit kronis (Fox et al., 2019). Menurut WHO, prevalensi preeklampsia berada di antara 2% hingga 10% di seluruh dunia (Khan et al., 2022). Di Indonesia insidensi kejadian preeklampsia mencapai 128.273 kasus per tahun atau sekitar 5,3% dari seluruh kehamilan (Basyiar et al., 2021). Prevalensi preeklampsi pada provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah kasus preeklampsia dari tahun 2014 hingga tahun 2016. Pada tahun 2014 didapatkan prevalensi kasus preeklampsia mencapai 24,44% dari 711 kematian per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2015 didapatkan peningkatan menjadi 26,34% dari 619 kematian per 100.000 kelahiran hidup, dan mengalami peningkatan kembali pada tahun 2016 menjadi 27,08% dari 602 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini menjadikan preeklampsia sebagai salah satu penyebab kematian ibu tertinggi di provinsi Jawa Tengah (Muzalfah et al., 2018). Salah satu penyakit autoimun yang dapat menyebabkan preeklampsia adalah systemic lupus erythematosus (SLE). SLE merupakan penyakit autoimun yang kompleks yang dapat melibatkan beberapa sistem tubuh dengan berbagai macam manifestasi klinis (Accapezzato et al., 2023). Prevalensi kasus SLE diperkirakan mencapai 43,7 (15,87 hingga 108,92 setiap 100.000 orang) dan 3,41 juta orang di seluruh dunia. Sedangkan, prevalensi SLE di Indonesia mencapai 0,5% dari seluruh total populasi (Fanny Tanzilia et al., 2021; Fatmawati, 2018). SLE dapat dibedakan menjadi derajat ringan, sedang, dan berat berdasarkan manifestasi klinis dan derajat aktivitas penyakit SLE (Sumariyono, et al, 2019). Tingkat derajat aktivitas SLE pada ibu hamil dapat memberikan manifestasi komplikasi yang berbeda sesuai dengan derajat keparahan SLE. Berdasarkan penelitian sebelumnya, 742 kelahiran dari wanita penderita SLE dan 10.484 kelahiran dari wanita non-SLE didapatkan 32 (4,2%) dan 55 (0,5%) terdiagnosis preeklampsia sehingga menunjukan adanya terkaitan SLE dengan peningkatan kejadian preeklampsia (Simard et al., 2017). Menurut Akbar et al., komplikasi preeklampsia pada penderita SLE terjadi pada 30% pasien SLE. Kehamilan dengan SLE meningkatkan risiko preeklampsia sebesar 3-5 kali lipat dibandingkan kehamilan tanpa SLE (Akbar, 2019). Selain itu, pasien dengan SLE mengalami peningkatan komplikasi preeklampsia sebesar 13,2% (Yue et al., 2017). Hal ini dapat terjadi dikarenakan mekanisme intoleransi kehamilan, hormon, antibodi antifosfolipid, interferon-α, dan sFlt-1 pada ibu hamil dengan SLE yang menyebabkan kegagalan dalam remodeling arteri spiralis sehingga menimbulkan manifestasi preeklampsia (Akbar, 2019; Andrade et al., 2015; Gluhovschi et al., 2015). Dari penelitian yang dipaparkan, kejadian SLE pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia, namun belum dapat membandingkan proporsi kejadian preeklampsia pada ibu dengan SLE derajat ringan dan derajat sedang-berat. Oleh karena itu, pada penelitian ini memiliki tujuan untuk membandingkan kejadian preeklampsia antara ibu hamil SLE derajat ringan dengan derajat sedang-berat di RSUD Dr. Moewardi dan RS UNS pada tahun 2021-2023.