Leukemia adalah penyakit keganasan pada jaringan hematopoietik yang ditandai dengan penggantian elemen sumsum tulang normal oleh sel darah abnormal atau sel leukemik. Leukemia biasanya menyerang pada sel darah putih. Pemaparan terhadap proses kemoterapi juga bisa meningkatkan resiko terjadinya leukemia, yang lebih peka terhadap leukemia bisa juga yang memiliki kelainan genetik seperti down syndrom dan sindroma Fanconi (Amin dan Hardi, 2015). Pengobatan leukemia pada anak-anak yang tepat adalah kemoterapi. Proses pengobatan yang panjang, menyakitkan, dan menimbulkan berbagai efek samping. Efek yang berlangsung terlihat dari proses pengobatan yang tidak dapat dielakkan adalah kepenatan akan waktu pengobatan yang panjang, rontoknya rambut hingga mengalami penipisan atau kebotakan, dan kekurangan darah. Lamanya proses pengobatan tentunya berdampak besar tehadap psikologis penderita maupun orang tua. Menurut penelitian Klassen et al (2011) mengutarakan bahwa orang tua dari anak kanker menjadi cemas, tidurnya terganggu dan stress berat hingga depresi. Lamanya proses pengobatan tentu akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang tua dari anak kanker. Selain efek samping yang dapat ditimbulkan dari proses kemoterapi, hasil pemeriksaan laboratorium yang buruk juga akan membuat kondisi orang tua dari anak kanker semakin cemas. Kondisi orang tua akan semakin meningkat saat melaksanakan usaha pengobatan tetapi tidak berhasil, tekanan psikologis berat dan himpitan ekonomi yang mengakibatkan orang tua mengalami penurunan kondisi kesehatan (Dewi dkk., 2021)